Ikuti Rajut Topi Mas, Penyuluh Baturraden Siap Siarkan Edukasi Administrasi Kependudukan kepada Jamaah
Oleh KUA baturraden
Banyumas — Penyuluh Agama dari Kantor Urusan Agama (KUA) Baturraden aktif berpartisipasi dalam kegiatan Rajut Topi Mas (Merajut Toleransi Penyuluh Agama Lintas Iman Banyumas). Bertempat di Balai Pertemuan Adat Banokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Banyumas ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat harmoni sekaligus menjawab persoalan riil di tengah masyarakat. Rabu (15/07)
Selain mempererat dialog antarumat beragama, forum ini juga diisi dengan peningkatan kapasitas penyuluh melalui berbagai materi kebangsaan dan pelayanan publik. Salah satu materi yang menjadi sorotan utama disampaikan oleh Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dindukcapil) Kabupaten Banyumas, Agus Sriyono.
Dalam paparannya, Agus Sriyono mengupas berbagai tantangan dan kendala di lapangan terkait administrasi kependudukan (adminduk), seperti kepemilikan akta kelahiran, pemutakhiran Kartu Keluarga (KK), hingga kepengurusan identitas kependudukan lainnya. Ia memperkenalkan serangkaian program kemudahan layanan dari Dindukcapil dan menaruh harapan besar pada peran fundamental penyuluh agama di akar rumput.
"Penyuluh agama memiliki posisi yang sangat strategis dan kedekatan kultural yang kuat dengan masyarakat. Kami berharap para penyuluh berkenan menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk turut menyosialisasikan pentingnya ketertiban administrasi kependudukan ini melalui mimbar-mimbar agama dan kepada jamaah di wilayah binaannya masing-masing," ujar Agus Sriyono.
Harapan tersebut mendapat sambutan hangat dari Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Agus Setiawan. Ia menyatakan kesiapan jajaran penyuluh agama, termasuk dari KUA Kecamatan Baturraden, untuk mengambil peran sosial tersebut sebagai bagian dari pelayanan umat yang holistik.
Kendati demikian, Agus Setiawan menekankan pentingnya pembekalan teknis dan materi yang terpadu sebelum penyuluh menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat luas. Hal ini dinilai krusial agar tidak terjadi kesimpangsiuran prosedur di lapangan.
"Prinsipnya, penyuluh agama siap mengambil peran dan berkolaborasi lintas sektoral dalam mengedukasi umat. Namun, kami menekankan perlunya poin-poin spesifik serta standardisasi materi panduan dari Dindukcapil. Dengan materi yang terstandar, edukasi mengenai adminduk ini dapat diterima oleh masyarakat secara utuh tanpa adanya perbedaan pemahaman atau miskomunikasi," tegas Agus Setiawan.
Kehadiran Penyuluh Agama KUA Baturraden dalam forum Rajut Topi Mas ini mencerminkan transformasi peran penyuluh di era modern. Tidak hanya fokus pada pembinaan spiritual dan moderasi beragama, penyuluh agama juga hadir sebagai agen penggerak kesadaran sosial yang berkontribusi nyata terhadap pemenuhan hak-hak sipil warga negara. (Fth)
