Jangan Tergesa-Gesa Memasuki Bahtera Kehidupan Tanpa Bekal yang Cukup

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Di sebuah ruang pelayanan yang sederhana namun sarat makna, keteguhan hukum dan kelembutan nurani bertemu dalam satu peristiwa yang mengajarkan arti tanggung jawab, kemanusiaan, dan harapan. Muji Riyanti, staf Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Jatilawang, dengan penuh kesantunan dan kehati-hatian, memberikan penjelasan atas penolakan pendaftaran pernikahan di bawah umur—sebuah keputusan yang mungkin terasa berat, namun justru lahir dari kepedulian yang dalam. Kamis (23/04)

Dengan raut wajah tenang dan tutur kata yang tertata, Muji Riyanti menyampaikan bahwa penolakan tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap harapan, melainkan perlindungan terhadap masa depan. Ia menjelaskan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga amanah besar yang menuntut kesiapan lahir dan batin, sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Ini bukan tentang boleh atau tidak semata, tetapi tentang kesiapan dan perlindungan,” ucapnya lembut, sembari tetap menjaga perasaan pihak yang datang dengan harap dan doa.

Dalam suasana yang sempat mengendap haru, Muji Riyanti tetap berpegang teguh pada prosedur yang telah ditetapkan. Ia menjelaskan dengan rinci dasar hukum yang melarang pernikahan di bawah usia yang ditentukan, sekaligus memberikan arahan tentang langkah-langkah yang dapat ditempuh, termasuk kemungkinan pengajuan dispensasi melalui pengadilan agama.

Tak ada nada menggurui, tak pula ada kesan menghakimi. Yang hadir justru ketulusan—bahwa setiap aturan yang ditegakkan adalah bentuk cinta negara kepada generasinya, agar mereka tidak tergesa memasuki bahtera kehidupan tanpa bekal yang cukup.

Peristiwa ini menjadi potret nyata bahwa pelayanan publik bukan sekadar administrasi, tetapi juga ruang pengabdian hati. Di balik meja pelayanan, Muji Riyanti tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai aparatur negara, tetapi juga sebagai penjaga nilai, pelindung masa depan, dan penyambung harapan yang lebih bijaksana.

Air mata mungkin sempat tertahan di sudut mata mereka yang datang dengan harapan yang harus ditunda. Namun di balik itu, terselip pelajaran berharga—bahwa cinta yang sejati tidak tergesa, dan masa depan yang baik layak diperjuangkan dengan kesiapan yang utuh.

Di KUA Jatilawang, hukum tidak berdiri kaku. Ia hadir dengan wajah yang ramah, suara yang lembut, dan hati yang mengerti. Dan di sanalah, dalam keseharian yang tampak biasa, tersimpan kisah-kisah luar biasa tentang pengabdian dan kemanusiaan.