Kajian Adabul Alim wal Mutaallim KUA Jatilawang Ingatkan Bahaya Hati yang Mati
Oleh KUA JATILAWANG
Jatilawang - Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang kembali menggelar kajian rutin kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di KUA Jatilawang. Kegiatan yang dilaksanakan setiap Kamis ini menjadi bagian dari pembinaan spiritual dan intelektual bagi penyuluh agama sebagai bekal dalam melaksanakan tugas bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat. Kamis (23/07)
Pada kajian kali ini, pembahasan difokuskan pada nasihat ulama besar Al-Hasan Al-Bashri tentang pentingnya menjaga kemurnian niat dalam menuntut dan mengamalkan ilmu. Beliau berkata:
"Siksaan ilmu pengetahuan adalah hati yang mati."Ketika ditanya mengenai makna hati yang mati, Al-Hasan Al-Bashri menjawab: Matinya hati adalah mencari harta dunia dengan cara menggunakan perbuatan-perbuatan akhirat."
Dalam pemaparannya, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang menjelaskan bahwa nasihat tersebut merupakan peringatan agar ilmu agama tidak dijadikan sarana untuk mengejar kepentingan duniawi semata, seperti kekayaan, kedudukan, atau pujian manusia. Ilmu yang semestinya menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT akan kehilangan keberkahannya apabila disalahgunakan demi kepentingan pribadi.
Lebih lanjut disampaikan bahwa seorang penyuluh agama memiliki amanah untuk menyampaikan nilai-nilai Islam dengan penuh keikhlasan dan keteladanan. Oleh karena itu, menjaga hati agar tetap bersih dari riya, ambisi duniawi, dan kepentingan pribadi menjadi bagian penting dari adab seorang penuntut ilmu sekaligus pendakwah.
Kajian kitab yang dilaksanakan secara rutin setiap Kamis pagi ini bertujuan memperkuat kapasitas penyuluh, tidak hanya dari sisi penguasaan materi keagamaan, tetapi juga dalam pembinaan akhlak dan integritas. Bekal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat sehingga dakwah yang disampaikan mampu memberikan manfaat dan membawa keberkahan.
Melalui kajian Adabul ‘Alim wal Muta’allim, KUA Jatilawang terus menanamkan nilai bahwa ilmu yang disertai keikhlasan akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan, sedangkan ilmu yang digunakan untuk kepentingan dunia semata dapat mengeraskan bahkan mematikan hati. Dengan demikian, para penyuluh diharapkan senantiasa menjaga kemurnian niat dalam setiap langkah pengabdian kepada umat.(dy)
