Kajian Ramadhan Bada Dhuhur GTK Tentang Pilar Keluarga Sakinah
Oleh MTSN3 Banyumas
Banyumas - Suasana Ramadhan yang teduh selepas dhuhur diwarnai lantunan ayat suci dan wajah-wajah khusyuk para Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Dalam momen penuh berkah itu, kajian Ramadhan ba’da dhuhur menghadirkan pemaparan yang menyentuh relung hati tentang fondasi rumah tangga Islami. Ustadzah Latifatul Azizah, membawakan tema reflektif dan aplikatif: “Pilar-Pilar Membentuk Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah.” Sejak awal penyampaian, para peserta diajak merenungi bahwa keluarga bukan sekadar ikatan lahir, melainkan jalan menuju ridha Allah. Senin (02/03)
Dalam pemaparannya, beliau mengawali dengan konsep mitsaqan ghalizhan — sebuah istilah Al-Qur’an yang berarti perjanjian yang kokoh. Pernikahan bukan hanya akad administratif, tetapi komitmen spiritual yang kuat di hadapan Allah. Pondasi ini menjadi dasar kesetiaan, tanggung jawab, dan kesungguhan dalam menjaga keutuhan rumah tangga di tengah berbagai ujian zaman.
Pilar kedua yang dibahas adalah zawwaj, prinsip kemitraan berpasangan. Suami dan istri bukan rival, melainkan rekan seperjalanan. Keduanya saling melengkapi kekurangan dan menguatkan kelebihan. Dalam rumah tangga sakinah, tidak ada dominasi yang melemahkan, tetapi kolaborasi yang menguatkan. Harmoni terbangun ketika masing-masing memahami peran dengan penuh kesadaran dan saling menghargai.
Selanjutnya, Ustadzah menekankan pentingnya mu’asyarah bil ma’ruf, yakni etika berinteraksi dengan cara yang baik dan patut. Komunikasi yang lembut, saling menghormati, serta menjaga lisan menjadi kunci terciptanya suasana damai di rumah. Dari sinilah tumbuh rasa mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) yang menjadi ruh keluarga Islami.
Dalam menghadapi persoalan, keluarga diajak mengedepankan musyawarah sebagai cara menyelesaikan masalah. Dialog terbuka, mendengar tanpa menghakimi, dan mencari solusi bersama menjadi wujud kedewasaan dalam berumah tangga. Tidak ada keputusan sepihak, karena setiap persoalan adalah tanggung jawab bersama untuk diselesaikan dengan kebijaksanaan.
Sebagai penutup, ditegaskan pentingnya taradhin — ruh keikhlasan dan kerelaan. Saling menerima, saling memaafkan, dan rela berkorban demi kebaikan bersama adalah energi spiritual yang menjaga rumah tangga tetap kokoh. Kajian ini tidak hanya menjadi pengingat teoritis, tetapi juga refleksi mendalam bagi para GTK untuk menata kembali keluarga sebagai madrasah pertama dan utama. Ramadhan pun menjadi momentum terbaik untuk memperkuat pondasi, agar setiap rumah benar-benar menjadi taman sakinah yang menghadirkan mawaddah dan rahmah hingga ke surga-Nya.(HumasMTsN3)
