Kajian Torikoh di Ponpes Al Falah Tinggarjaya
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Kesibukan melayani umat tidak pernah menghalangi langkah seorang penyuluh agama untuk terus mengisi jiwa dengan ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh Muhammad Asyhadi, Penyuluh Agama Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, saat mengikuti kajian torikoh di Pondok Pesantren Al Falah, Desa Tinggarjaya. Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar memperdalam dimensi spiritual sekaligus memperkokoh bekal dalam membimbing masyarakat menuju kehidupan yang lebih bermakna. Rabu (08/07)
Kajian berlangsung dalam suasana yang khusyuk, teduh, dan penuh kekhidmatan. Lantunan zikir, doa, serta nasihat para masyayikh mengalir lembut menyejukkan hati setiap peserta. Di tengah derasnya arus kehidupan yang sering menyibukkan manusia dengan urusan dunia, majelis ilmu itu menjadi ruang untuk membersihkan hati, menata niat, dan mengingat kembali bahwa tujuan akhir setiap langkah adalah meraih rida Allah SWT.
Bagi Muhammad Asyhadi, mengikuti kajian torikoh bukan sekadar menghadiri sebuah pertemuan keagamaan, melainkan menimba hikmah yang akan dibawa ke tengah masyarakat. Seorang penyuluh agama tidak hanya dituntut memiliki keluasan ilmu, tetapi juga keteduhan akhlak, kelembutan tutur kata, dan kebersihan hati. Dari majelis seperti inilah nilai-nilai tersebut dipupuk agar dakwah yang disampaikan mampu menyentuh jiwa, bukan sekadar terdengar oleh telinga.
Pondok Pesantren Al Falah Tinggarjaya kembali membuktikan perannya sebagai taman ilmu dan pembinaan ruhani yang terus menebarkan cahaya kepada umat. Di tempat itu, setiap peserta diajak menyadari bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari jabatan atau banyaknya harta, melainkan dari kerendahan hati dalam mencari ilmu dan kesungguhan memperbaiki diri. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin dalam pula rasa tawaduk yang tumbuh di dalam hati.
Kajian tersebut juga menjadi pengingat bahwa masyarakat membutuhkan sosok penyuluh agama yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang lahir dari hati yang bersih akan menjelma menjadi nasihat yang menenangkan, bimbingan yang menguatkan, dan dakwah yang menumbuhkan harapan. Itulah bekal yang terus dipersiapkan Muhammad Asyhadi dalam menjalankan amanahnya sebagai pelayan umat.
Di penghujung majelis, setiap doa yang dipanjatkan seakan berbaur dengan harapan-harapan terbaik bagi bangsa, keluarga, dan masyarakat. Ada air mata yang jatuh dalam diam, ada hati yang kembali luluh setelah lama diselimuti kesibukan dunia, dan ada tekad baru untuk menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Sang Pencipta. Dari Pondok Pesantren Al Falah Tinggarjaya, Muhammad Asyhadi pulang bukan hanya membawa tambahan ilmu, tetapi juga membawa cahaya ruhani yang akan diteruskan kepada masyarakat melalui pelayanan, bimbingan, dan dakwah yang penuh kasih. Sebab, sejatinya manusia terbaik bukanlah mereka yang paling banyak dipuji, melainkan mereka yang terus belajar memperbaiki diri agar dapat menjadi jalan hadirnya rahmat bagi sesama.
