HUT RI #81

Ketelitian di Balik Janji Suci: Dua Pasang Pengantin Resmi Menikah di KUA Somagede

KUA Somagede
KUA Somagede
26 Mar 2026
11x dibaca
SHARE

Banyumas – Suasana khidmat menyelimuti Aula Balai Nikah KUA Somagede hari ini. Dua pasang calon pengantin (catin) telah resmi memulai lembaran baru dalam hidup mereka setelah menjalani prosesi ijab kabul yang dipandu langsung oleh Kepala KUA Somagede, Fairuz Mustafiq.

Acara dimulai dengan pelayanan pernikahan bagi pasangan pertama, Alif Rian Pratama & Arum Tri Sartika yang berasal dari Desa Somagede. Tak lama berselang, suasana bahagia berlanjut saat pasangan kedua, Andi Setio Wibowo & Lis Nur Hayati dari Desa Klinting, juga melaksanakan prosesi sakral tersebut.

Ada hal unik yang menjadi ciri khas Fairuz Mustafiq dalam setiap prosesi pernikahan: ketelitian tingkat tinggi. Sebelum kata "Sah" bergema, beliau melakukan pemeriksaan berkas dengan sangat detail.

Hal menarik terjadi saat pemeriksaan berkas pasangan asal Desa Klinting. Dengan mata elangnya, Fairuz menemukan sebuah kejanggalan pada data kependudukan wali nikah. "Beliau mendapati fakta bahwa jarak usia antara wali nikah dengan anak pertamanya hanya terpaut 7 tahun. Sebuah hal yang secara logika mustahil terjadi," ungkap salah satu saksi di lokasi.

Setelah dikonfirmasi, sang wali akhirnya mengakui adanya kekeliruan penulisan tahun lahir pada KTP. Temuan ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat akan krusialnya akurasi identitas hukum agar kesalahan serupa tidak berlanjut di masa depan.

Tak hanya soal administrasi, sisi spiritualitas juga menjadi sorotan. Dalam khutbah nikahnya, Fairuz menyampaikan pesan-pesan yang mendalam. Beliau menekankan pentingnya:

  • Saling menyayangi dengan tulus.

  • Menjaga komitmen dalam suka maupun duka.

  • Memperlakukan pasangan dengan baik secara berulang-ulang sebagai pondasi rumah tangga.

Penyampaian yang penuh makna tersebut membuat para hadirin yang hadir tak kuasa menahan haru dan turut larut dalam suasana khidmat. Pernikahan hari ini bukan sekadar urusan dokumen, melainkan tentang kesiapan mental dan ketulusan hati. (Nuryati)