Ketika Jarak Memisahkan, Kesetiaan Dijaga dalam Rindu, dan Dikuatkan Dengan Doa
Banyumas — Di Balai Nikah KUA Jatilawang yang dipenuhi keteduhan dan harapan, kisah tentang cinta yang diuji oleh waktu dan jarak mengalir pelan namun menggetarkan. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, kembali menghadirkan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang tidak sekadar menjadi forum edukasi, tetapi juga ruang perenungan batin bagi calon pengantin. Kamis (26/03)
Pasangan calon pengantin, Tomy Bagus dan Imaniar Wijayanti, duduk berdampingan dengan mata yang sesekali berkaca-kaca. Mereka mendengarkan dengan khidmat setiap untaian nasihat tentang kesetiaan suami istri, terutama dalam kondisi terpisah bertahun-tahun karena tuntutan pekerjaan—sebuah realitas yang tak jarang menjadi ujian paling sunyi dalam bahtera rumah tangga.
Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah menuturkan bahwa kesetiaan bukan sekadar janji yang diucapkan di hadapan penghulu, melainkan perjuangan panjang yang harus dirawat dalam diam, dijaga dalam rindu, dan dikuatkan dengan doa. “Ada cinta yang tidak selalu berwujud kebersamaan fisik, tetapi hadir dalam keyakinan yang tak goyah, dalam kepercayaan yang tidak retak meski jarak membentang,” ujarnya dengan suara yang lembut namun penuh makna.
Ia menambahkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang hari-hari panjang ke depan yang mungkin akan diwarnai keterpisahan, kesendirian, bahkan kesunyian. Namun di situlah letak kemuliaan cinta—ketika dua hati tetap saling menggenggam meski tak saling menyentuh.
Suasana ruangan seketika menjadi hening. Kata-kata yang terucap bukan hanya terdengar, tetapi terasa hingga ke relung hati. Tomy dan Imaniar saling menatap, seolah memahami bahwa perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah jalan yang mudah, namun bukan pula tanpa harapan.
Bimwin ini menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan rumah tangga, jarak bukanlah akhir dari kebersamaan. Justru dalam jarak itulah kesetiaan diuji, kepercayaan dipertaruhkan, dan cinta dimurnikan. Seperti langit yang tetap setia menaungi bumi meski tak pernah bersentuhan, demikian pula hati yang tulus akan tetap terhubung meski dipisahkan ruang dan waktu.
Di akhir sesi, doa dipanjatkan dengan khusyuk. Harapan disematkan dalam setiap kalimat yang terucap, agar pasangan ini kelak mampu menjaga cinta mereka dalam keadaan apa pun—dekat ataupun jauh, lapang maupun sempit.
Bimbingan ini bukan sekadar pembekalan menuju pernikahan, tetapi juga lentera yang akan menerangi jalan panjang kehidupan rumah tangga. Sebab pada akhirnya, cinta sejati bukan tentang selalu bersama, melainkan tentang tetap setia, meski dunia memisahkan.
