Khataman Al-Quran 30 Juz di KUA Jatilawang
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang ketika Kepala KUA bersama para Penyuluh Agama, Penghulu, dan seluruh staf melaksanakan syukuran khataman Al-Qur’an 30 juz, dalam sebuah momen yang sederhana namun sarat makna. Selasa (07/04)
Kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian tilawah yang dijalani dengan penuh kesungguhan. Lantunan ayat-ayat suci yang sebelumnya menggema kini bertransformasi menjadi doa-doa yang terucap lirih, menyatu dalam keheningan yang menenangkan jiwa.
Dalam suasana yang khidmat namun hangat, seluruh pegawai berkumpul tanpa sekat, duduk bersama dalam lingkaran kebersamaan. Tidak ada perbedaan jabatan, tidak ada jarak di antara mereka—yang ada hanyalah rasa syukur yang sama, atas kesempatan menuntaskan kalam Ilahi hingga 30 juz.
Kepala KUA Jatilawang dalam sambutannya menyampaikan bahwa khataman Al-Qur’an bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab untuk mengamalkan setiap ayat dalam kehidupan sehari-hari. “Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupkan dalam sikap, dalam tutur kata, dan dalam pelayanan kita kepada masyarakat,” tuturnya dengan penuh keteduhan.
Setelah rangkaian doa dipanjatkan, acara dilanjutkan dengan makan bersama yang justru menjadi momen paling menghangatkan. Hidangan sederhana tersaji: opor ayam yang gurih, potongan buah semangka yang segar, jus buah yang menyejukkan, serta es teh yang menemani setiap suapan.
Namun lebih dari sekadar makanan, yang tersaji di meja itu adalah rasa kebersamaan yang tulus. Tawa kecil pecah di sela-sela obrolan ringan, sementara mata sebagian yang lain masih menyimpan sisa haru. Ada kelegaan, ada kebahagiaan, dan ada rasa syukur yang tak terucapkan dengan kata-kata.
Momen tersebut seakan menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari hati yang bersih, dari niat yang tulus, dan dari kebersamaan yang terjalin tanpa pamrih.
Syukuran khataman ini bukan hanya sebuah seremoni, tetapi juga cerminan dari semangat spiritual yang terus dijaga oleh keluarga besar KUA Jatilawang. Di tengah kesibukan pelayanan kepada masyarakat, mereka masih menyempatkan diri untuk kembali kepada sumber utama ketenangan—Al-Qur’an.
Dan di hari itu, di ruang sederhana yang dipenuhi cahaya keikhlasan, Al-Qur’an tidak hanya selesai dibaca. Ia hidup—dalam senyum, dalam doa, dalam kebersamaan, dan dalam setiap langkah yang akan mereka tempuh ke depan.
Air mata yang mungkin jatuh perlahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati masih peka, masih mampu merasakan keindahan iman yang begitu dalam. Sebab di situlah, dalam kesederhanaan yang tulus, keberkahan menemukan jalannya.
