Lestarikan Budaya Lokal: Pakai Surjan, Penyuluh KUA Ajibarang Hadiri Pertemuan IPARI di Griyo Banokeling
Oleh HUMAS
Pekuncen — Nuansa budaya Jawa yang kental mewarnai pertemuan rutin Ikatan Penyuluh Agama Islam Republik Indonesia (IPARI) tingkat Kabupaten Banyumas yang digelar di Griyo Banokeling, Kecamatan Pekuncen. Sebanyak tujuh orang Penyuluh Agama Islam (PAI) dari Kantor Urusan Agama (KUA) Ajibarang turut hadir dengan penampilan yang mencuri perhatian. Rabu (15/07)
Berbeda dari biasanya, para penyuluh dari KUA Ajibarang ini kompak mengenakan busana tradisional Jawa lengkap berupa surjan. Kehadiran mereka dengan pakaian adat ini menjadi simbol nyata atas semangat kebersamaan sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai luhur kebudayaan daerah.
Acara strategis ini dihadiri langsung oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Banyumas, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Islam, serta Ketua Pengurus Daerah (PD) IPARI Kabupaten Banyumas.
Pertemuan rutin di Griyo Banokeling ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah untuk mempererat tali silaturahmi antarpenyuluh se-Kabupaten Banyumas, tetapi juga menjadi sarana pembinaan berkala. Ada dua poin utama yang menjadi sorotan dalam pembinaan kali ini:
-
Penguatan Moderasi Beragama: Meneguhkan peran penyuluh sebagai garda terdepan dalam menjaga kerukunan umat dan mengikis paham-paham ekstrem.
-
Internalisasi Budaya Lokal: Menguatkan pemahaman nilai budaya setempat yang disimbolisasikan melalui kewajiban mengenakan busana tradisional. Kebijakan ini dinilai efektif untuk mendekatkan pesan-pesan keagamaan dengan kearifan lokal (local wisdom).
Keikutsertaan aktif tujuh penyuluh KUA Ajibarang dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen mereka dalam meningkatkan kapasitas diri. Pihak KUA Ajibarang menegaskan akan memanfaatkan setiap hasil pembinaan dari pertemuan IPARI ini secara optimal.
Langkah ini diambil demi mendongkrak kualitas pelayanan keagamaan di wilayah Kecamatan Ajibarang. Lebih dari itu, kolaborasi antara pemahaman agama yang inklusif dan kecintaan pada budaya lokal diharapkan dapat memperkokoh nilai-nilai kebangsaan serta nasionalisme di tengah-tengah masyarakat binaan.
