MAN 3 Banyumas Gelar Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS dan LGBT Bersama KPA
Oleh MAN 3 Banyumas
Banyumas – Dalam upaya membentengi generasi muda dari perilaku menyimpang dan penularan penyakit menular, MAN 3 Banyumas menggelar kegiatan sosialisasi kesehatan remaja pada Kamis (16/7/2026). Bertempat di Aula MAN 3 Banyumas, kegiatan yang menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) ini fokus mengupas tuntas materi seputar HIV/AIDS dan fenomena LGBT di kalangan remaja.
Hadir sebagai pemateri utama, Wondo dari KPA Banyumas, memaparkan secara komprehensif mengenai bahaya, cara penularan, serta langkah preventif menghadapi HIV/AIDS. Beliau juga menyoroti maraknya fenomena LGBT dari sudut pandang medis dan sosial yang kian mengancam masa depan generasi penerus bangsa.
Kepala MAN 3 Banyumas, Solikhin, menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Dalam tanggapannya, Solikhin menegaskan pentingnya edukasi sejak dini bagi para murid. "Kami sangat berterima kasih kepada KPA atas edukasi yang sangat berharga ini. Lingkungan madrasah harus menjadi benteng utama yang bersih dari pengaruh negatif. Melalui sosialisasi ini, kami berharap para murid memiliki pemahaman yang benar, benteng iman yang kuat, serta mampu menjaga diri dan lingkungan pergaulan mereka agar tidak terjerumus," ujar Solikhin.
Antusiasme peserta terlihat tinggi saat sesi tanya jawab dibuka. Farah Az Zahra Wibisono, salah satu murid kelas XI, mengajukan pertanyaan kritis mengenai regulasi institusi. Ia menanyakan bagaimana peraturan penanganan terkait LGBT di sekolah serta bagaimana memperlakukan korban yang terlanjur terjerumus. Menanggapi pertanyaan Farah, Suwondo menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan harus seimbang antara ketegasan aturan dan kemanusiaan. "Secara aturan, institusi tentu memiliki tata tertib yang tegas untuk mencegah penyebaran perilaku tersebut. Namun, terhadap mereka yang menjadi korban, pendekatan kita adalah edukasi, pendampingan psikologis, dan rehabilitasi, bukan pengucilan. Kita harus merangkul mereka untuk kembali ke jalan yang benar," urai Wondo.
Pertanyaan menarik lainnya datang dari Tabina Earlen Hasna, siswi kelas XII. Ia menanyakan kemungkinan seseorang bisa terinfeksi HIV/AIDS padahal ia merasa tidak pernah melakukan tindakan yang memicu penularan, seperti hubungan seks bebas atau penggunaan jarum suntik narkoba. Wondo pun memberikan penjelasan yang mencerahkan. "HIV tidak hanya menular lewat perilaku seksual atau narkoba sintetis. Seseorang bisa tertular melalui jalur non-perilaku (bukan karena kesalahan sendiri), misalnya melalui transfusi darah yang sudah tercemar virus, penggunaan jarum tindik atau tato yang tidak steril secara bergantian, atau penularan dari ibu hamil yang positif HIV kepada bayinya saat melahirkan atau menyusui. Oleh karena itu, edukasi ini penting agar kita semua waspada terhadap segala jalur penularannya," tergasnya.
Kegiatan sosialisasi ini diakhiri dengan komitmen bersama seluruh warga MAN 3 Banyumas untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang sehat, religius, dan bebas dari ancaman HIV/AIDS serta perilaku menyimpang. (Humas).
