Menembus Lorong Waktu di Banokeling: Saat Penyuluh KUA Somagede Selami Tradisi Leluhur Jawa

Oleh KUA Somagede
SHARE

Banyumas — Ada yang berbeda dari raut wajah para Penyuluh Agama Islam KUA Somagede hari ini. Bersama rombongan Ikatan Penyuluh Agama Islam (IPARI) Kabupaten Banyumas, mereka melangkah keluar dari rutinitas kantor untuk melakukan sebuah perjalanan budaya yang sarat makna ke Desa Adat Banokeling, Pekuncen, Kecamatan Jatilawang. Rabu (15/07)

Bukan sekadar kunjungan biasa, agenda kali ini menjadi momen penting untuk menyelami lebih dalam bagaimana merawat harmoni antara nilai keagamaan dan kelestarian adat istiadat setempat.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah berkunjung langsung ke kediaman para Bedogol—sebutan dihormati untuk para pemimpin kelompok adat Banokeling yang rumahnya tersebar di penjuru dusun.

Begitu menginjakkan kaki di kawasan ini, suasana magis dan kentalnya tradisi Jawa langsung menyergap indra. Seolah-olah waktu berhenti berputar, para penyuluh disuguhi pemandangan kehidupan yang masih sangat setia memegang teguh tatanan leluhur.

Di dalam rumah para Bedogol, tampak jelas filosofi hidup kesahajaan:

  • Tanpa Alas Kaki: Sebagai simbol kerendahan hati dan kedekatan manusia dengan bumi.

  • Lantai Tanah & Amben Besar: Tidak ada ubin mewah. Interaksi hangat terjadi di atas amben (dipan kayu besar) di atas lantai tanah yang eksotik.

  • Busana Serba Hitam: Pakaian adat khas hitam-hitam yang dikenakan menjadi simbol keteguhan, kesahajaan, dan kesetaraan.

Langkah kaki para penyuluh ini disambut hangat oleh pemuka masyarakat dan pemerintah desa setempat. Kepala Desa menegaskan betapa pentingnya menjaga warisan budaya ini di tengah gempuran modernisasi. "Wong Jowo ojo ilang Jowone (Orang Jawa jangan sampai kehilangan identitas Jawanya)," ungkap Kepala Desa penuh penekanan.

Pesan mendalam ini menjadi pengingat bahwa merawat tradisi bukanlah bentuk kemunduran, melainkan cara menghormati akar sejarah dan identitas diri.

Bagi para Penyuluh Agama Islam KUA Somagede, kunjungan ini memberikan perspektif baru yang berharga. Pendekatan keagamaan yang inklusif dan menghargai budaya lokal (kearifan lokal) justru menjadi kunci utama dalam menciptakan kedamaian dan kerukunan di tengah masyarakat. Perjalanan hari ini bukan sekadar studi lapangan, melainkan refleksi tentang bagaimana agama dan budaya bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan. (Yas & NurY)