Mengenal Sosok Editor Berita KUA Wangon
Oleh KUA Wangon
Banyumas - Derasnya arus informasi di era digital menuntut setiap instansi pemerintah untuk bergerak cepat dalam menyajikan pemberitaan yang akurat dan menarik, tidak terkecuali bagi Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon. Di balik deretan rilis berita yang rutin menghiasi portal keagamaan dan media sosial resmi instansi, ada peran krusial yang jarang tersorot kamera. Peran tersebut berada di tangan seorang editor berita, sosok di balik layar yang bertugas menyaring, menyunting, dan merangkai kata demi mengemas citra positif serta transparansi kinerja KUA Wangon ke hadapan publik. Rabu (17/06)
Tugas seorang editor di lingkungan KUA tentu tidaklah sederhana. Setiap harinya, ia harus menerima berbagai draf tulisan kasar dan dokumentasi kegiatan dari rekan-rekan sejawatnya, baik sesama staf administrasi maupun para penyuluh agama di lapangan. Lembar demi lembar kalimat diperiksa secara teliti, mulai dari membenarkan kesalahan ketik (typo), menyesuaikan keselarasan kalimat dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD), hingga memastikan bahwa sudut pandang berita yang diambil mampu mengedukasi masyarakat secara luas dan menyejukkan umat.
Kehadiran sosok editor ini menjadi jembatan informasi yang sangat vital bagi publik. Melalui sentuhan tangan dinginnya, kegiatan-kegiatan internal KUA Wangon yang padat, seperti bimbingan perkawinan, penyuluhan produk halal, koordinasi lintas sektoral, hingga aksi ekoteologi, dapat dikonversi menjadi konsumsi berita yang renyah dan mudah dipahami oleh pembaca awam. Konsistensi dalam memperbarui kabar inilah yang pada akhirnya berhasil mengikis stigma kaku pada birokrasi dan membangun kedekatan antara KUA dengan masyarakat Kecamatan Wangon.
Lebih dari sekadar membenarkan tanda baca, peran ini sejatinya merupakan bagian dari syiar digital. Sang editor dituntut untuk memiliki kepekaan sosial dan pemahaman agama yang mendalam agar narasi yang dipublikasikan tidak menimbulkan salah tafsir atau memicu polemik di tengah masyarakat. Dengan dedikasi yang tinggi, ia menyulap meja redaksi kecil di sudut kantor menjadi pusat kendali informasi yang terus menyuarakan nilai-nilai moderasi beragama, keharmonisan, dan edukasi keumatan secara berkala.
Menjalani peran ganda di dalam instansi tentu memberikan tantangan tersendiri, namun komitmen untuk menyajikan informasi yang edukatif dan tepercaya tetap menjadi motivasi utama yang menggerakkan setiap goresan penanya. "Mengemban tugas sebagai penyuluh sekaligus editor berita adalah sebuah amanah yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana menyelaraskan waktu antara turun ke lapangan untuk membina umat, dan duduk di depan layar untuk meramu draf berita dari teman-teman. Namun, bagi saya, mengedit berita juga merupakan bagian dari dakwah. Lewat tulisan yang rapi dan menarik, kita sedang menyebarkan kedamaian Islam dan mengabarkan kemanfaatan KUA Wangon kepada masyarakat luas," ujar Joharulloh, Penyuluh sekaligus Editor Berita KUA Wangon. (jhr)
