Merangkai Kembali Kepingan-Kepingan Harapan yang Pernah Retak Oleh Masa Lalu

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di sebuah ruang sederhana yang sarat makna, kisah tentang harapan yang tumbuh kembali terajut indah di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang. Bukan kisah tentang awal yang tanpa luka, melainkan tentang keberanian untuk bangkit dan membuka lembaran baru kehidupan. Adalah Sangidun dan Titik Indrayanti, pasangan duda dan janda asal Desa Bantar, yang pada hari itu mengikrarkan janji suci pernikahan di hadapan penghulu dan para saksi. Dipandu oleh Penghulu KUA Jatilawang, Iskandar Zulkarnain, prosesi pencatatan nikah dan ijab qabul berlangsung khidmat, penuh ketenangan yang mengalir hingga ke relung hati. (Kamis, 9/4)

Dengan suara yang bergetar namun mantap, Sangidun mengucapkan ijab qabul, sebuah kalimat sakral yang menjadi titik temu dari perjalanan panjang penuh lika-liku. Di hadapannya, Titik Indrayanti menunduk haru, menyimpan doa-doa yang tak terucap, seolah merangkai kembali kepingan-kepingan harapan yang pernah retak oleh masa lalu.

Prosesi itu menjadi saksi bahwa cinta tidak selalu datang pada permulaan, tetapi kerap hadir sebagai jawaban atas kesabaran dan keikhlasan. Dalam keheningan yang menyelimuti ruangan, beberapa pasang mata tak kuasa menahan haru, menyaksikan bagaimana dua hati yang pernah terluka kini dipersatukan dalam ikatan yang diridhai.

Iskandar Zulkarnain dalam nasihatnya menyampaikan bahwa pernikahan adalah anugerah yang tidak memandang masa lalu seseorang. Ia menegaskan bahwa setiap insan berhak mendapatkan kebahagiaan, selama ia menapaki jalan yang benar dan penuh keikhlasan.

“Menjadi duda dan janda bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari sana, kita belajar tentang makna kesabaran, pengorbanan, dan keikhlasan. Pernikahan hari ini adalah bukti bahwa Allah selalu menyiapkan kebahagiaan bagi hamba-Nya yang tidak pernah putus harapan,” tuturnya dengan suara lembut.

Para saksi dan keluarga yang hadir turut merasakan getaran kebahagiaan yang sederhana namun begitu dalam. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, hanya doa-doa tulus yang mengalir, mengiringi langkah baru Sangidun dan Titik dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus tanpa ujian. Namun, di setiap ujian, selalu ada peluang untuk kembali menemukan cahaya. Bahwa cinta tidak harus sempurna sejak awal, tetapi dapat tumbuh kembali, lebih kuat, lebih matang, dan lebih bermakna.

Di KUA Jatilawang hari itu, bukan sekadar sebuah pernikahan yang tercatat. Lebih dari itu, sebuah kisah tentang keberanian untuk mencintai kembali telah dituliskan—sebuah kisah yang mengajarkan bahwa selama hati masih percaya, harapan akan selalu menemukan jalannya.