MTs Plus Al Falah dan MA Al Falah Jatilawang Ready to Growth Mindset
Oleh HUMAS
Banyumas – Dalam rangka menyambut semester genap dan memperkuat kualitas pengajaran, MTs Plus Al Falah dan MA Al Falah Jatilawang menggelar In House Training (IHT) bersama. Kegiatan yang berfokus pada Pembelajaran Mendalam dan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ini dilaksanakan di RM Pondok Asri, Jatilawang. Selasa (11/11)
IHT ini diadakan secara gabungan mengingat kedua madrasah tersebut masih berada dalam satu naungan yayasan. Sebanyak 40 guru dari MTs dan MA Al Falah bersemangat mengikuti sesi pelatihan ini untuk mematangkan penyusunan modul ajar mereka.
Kepala MA Al Falah Jatilawang, Amir Mahmud, dalam sambutan tunggalnya menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran narasumber. Beliau menekankan bahwa guru-guru sangat membutuhkan arahan dalam mengimplementasikan kebijakan kurikulum terbaru.
"Kami sangat berterimakasih kepada pengawas yang sudah memberikan waktu hari ini spesial untuk mentransfer ilmu dan pengalamannya kepada kami," ujar Amir Mahmud. "Tujuannya untuk lebih mendalami dan menguasai produk Kemendikdasmen yaitu Pembelajaran Mendalam dan produk Kemenag yaitu Kurikulum Berbasis Cinta, yang semuanya harus dilaksanakan dalam pembelajaran." lanjutnya.
Kegembiraan juga disampaikan oleh Kepala MTs Plus Al Falah Jatilawang, Ribut Karyanto. "Rasanya gembira sekali bisa melaksanakan IHT bersama dengan MA Al Falah Jatilawang selaku kakak dalam yayasan. Dengan bersama-sama seperti ini belajar menjadi lebih semangat dan lebih seru, apalagi kegiatan ini di luar madrasah sehingga lebih nyaman dan lebih fokus," ujarnya.
Narasumber tunggal kegiatan ini, Siti Muflikhah (Pengawas Madrasah), membuka sesi dengan pantun salam yang hangat. Ia menekankan pentingnya perubahan cara pandang bagi seorang pendidik.
Siti Muflikhah, yang akrab disapa I’ah, mengajak para guru untuk memiliki Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset). Pola pikir ini penting untuk mendorong siswa-siswi mereka agar dapat menerima tantangan sebagai semangat untuk menguji kemampuan, serta menerima kritikan sebagai informasi yang membangun, bukan sebagai ancaman.
I’ah menegaskan bahwa pendekatan Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta menuntut setiap guru untuk berani keluar dari zona nyaman.
Diakhir kegiatan yang ditutup pada pukul 15.50 WIB, I’ah berpesan agar para guru segera mempraktikkan cara membuat Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) menggunakan kecerdasan buatan (AI) sesuai mata pelajaran masing-masing. Peserta juga diminta mempraktikkan penyusunan Modul Ajar Pembelajaran Mendalam yang terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta.
Acara ditutup dengan salam penutup dan yel-yel penyemangat, yakni Tepuk Panca Cinta dan Tepuk Cinta.(I’ah)
