Nyanyian dan Tepuk Ceria Warnai Pesantren Ramadhan MI At Tijani Bersama Penyuluh KUA Somagede
Oleh KUA Somagede
Banyumas – Ada pemandangan menarik di kelas bawah MI At Tijani Desa Sokawera hari ini. Alunan lagu dan suara tepuk tangan riuh terdengar dari ruang kelas 1 dan 2. Ternyata, para siswa sedang asyik mendalami makna bulan suci bersama Penyuluh Agama Islam dari KUA Somagede dalam agenda Pesantren Ramadhan Ceria. Kamis (12/03)
Memahami psikologi anak kelas rendah yang mudah bosan dengan metode ceramah monoton, Nuryati, hadir dengan strategi yang segar. Baginya, menyampaikan ilmu kepada anak-anak harus masuk melalui "pintu" kegembiraan.
Di jam pertama, suasana langsung mencair saat Nuryati mengajak siswa menyanyikan lagu berjudul "Apa Itu Bulan Ramadhan". Lewat lirik yang sederhana namun sarat makna, para siswa diajak mengenal keistimewaan bulan penuh ampunan ini dengan cara yang sangat menyenangkan.
Tak berhenti di situ, edukasi berlanjut pada pemahaman dasar rukun Islam keempat. Pengertian puasa tidak disampaikan melalui dikte yang kaku, melainkan melalui metode Tepuk Puasa. Teknik ini terbukti ampuh membuat anak-anak tetap fokus dan antusias mengikuti instruksi.
Sebagai penutup sesi yang manis, materi tentang Kalimat Thoyyibah pun disampaikan kembali melalui rangkaian nada yang ceria. Anak-anak tampak berebut mengikuti setiap gerakan dan lirik yang dicontohkan.
"Anak-anak kelas bawah memiliki daya serap yang luar biasa jika materi disampaikan melalui lagu dan permainan. Metode ini jauh lebih efektif daripada sekadar duduk diam mendengarkan teori," ungkap Nuryati di sela-sela kegiatannya.
Sementara kemeriahan terjadi di kelas bawah, suasana di kelas atas (kelas 3, 4, dan 5) juga berlangsung tertib dan khidmat. Setelah sesi Nuryati, jam berikutnya di kelas bawah dilanjutkan oleh Yanda Nurarista. Sedangkan untuk kelas atas, penyampaian materi dipercayakan kepada Anwarudin pada jam pertama dan ditutup oleh Budiman, pada jam kedua dengan kedalaman materi yang disesuaikan untuk siswa yang lebih senior.
Kegiatan hari pertama ini membuktikan bahwa sinergi antara KUA Somagede dan lembaga pendidikan lokal mampu menciptakan suasana belajar agama yang tidak hanya berbobot, tapi juga dirindukan oleh para siswa.
