PBB Tanpa Melihat, Tetap Harus Kompak! Serunya Lomba HUT RI ke-81 di MTs Negeri 3 Banyumas
Oleh MTSN3 Banyumas
Banyumas - Masih dalam semarak perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, MTs Negeri 3 Banyumas kembali menghadirkan perlombaan yang tidak biasa. Memasuki hari kedua rangkaian lomba kemerdekaan, Kamis, 20 Agustus 2026, para murid diajak menguji kekompakan dan kedisiplinan melalui Pelatihan Baris-Berbaris (PBB). Namun, ada satu aturan yang membuat perlombaan kali ini berbeda dari PBB pada umumnya: seluruh peserta harus melaksanakan gerakan dengan mata tertutup! Bukan sekadar mengandalkan pandangan, para peserta ditantang untuk benar-benar mendengarkan, memahami, dan mengikuti setiap aba-aba komando dengan tepat. Di sinilah kedisiplinan, konsentrasi, kekompakan, sekaligus keberanian mereka benar-benar diuji. Kamis (20/08)
Setiap tim terdiri atas 20 murid, yaitu 10 putra dan 10 putri. Para perwakilan kelas berbaris dalam formasi dua saf menghadap ke arah juri. Dalam satu kali perlombaan, tiga regu yang berasal dari tiga kelas berbeda tampil secara bersamaan. Sebelum aba-aba dimulai, seluruh peserta diwajibkan mengenakan kain penutup mata. Koordinator lomba kemudian memberikan berbagai instruksi hanya melalui suara. Tidak ada kesempatan untuk melihat teman di samping, tidak ada kesempatan mengintip posisi barisan, dan tidak ada panduan visual. Satu-satunya pegangan adalah suara komando dan kemampuan masing-masing peserta untuk menerjemahkannya menjadi gerakan yang tepat.
Menit-menit pertama berlangsung cukup tertib. Aba-aba terdengar, barisan bergerak, dan peserta berusaha mempertahankan formasi meskipun sama sekali tidak dapat melihat keadaan di sekelilingnya. Konsentrasi benar-benar menjadi kunci. Namun, beberapa menit kemudian, suasana mulai berubah. Ada peserta yang mulai kehilangan fokus dan salah menerjemahkan aba-aba. Ketika terdengar perintah “hadap kanan”, ada yang justru menghadap kiri. Saat komando “jalan di tempat” diberikan, beberapa peserta malah melangkah maju. Yang semula berjalan dalam barisan rapi perlahan mulai bergerak ke arah yang tidak lagi dapat dipastikan. Tanpa bisa melihat posisi teman, peserta hanya bisa menerka-nerka apakah dirinya masih berada di tempat yang benar.
Dari sinilah keseruan mulai pecah! Para penonton yang menyaksikan dari luar barisan mulai dibuat tertawa sekaligus gemas melihat tingkah para peserta yang berusaha keras tetap mengikuti komando. Ada yang berputar ke arah berbeda, ada yang terus bergerak sementara teman di sampingnya berhenti, bahkan ada yang tampak yakin bahwa dirinya sudah berada di posisi yang benar, padahal justru semakin menjauh dari formasi. Sementara itu, para peserta sendiri tentu tidak kalah bingung. Mereka hanya bisa mengandalkan telinga dan berharap gerakan yang dilakukan benar. Tidak boleh melihat, tidak boleh bertanya, dan tidak boleh mengikuti gerakan teman—hanya suara komando yang menjadi penunjuk arah.
Ketika waktu perlombaan akhirnya habis, para peserta dipersilakan membuka kain penutup mata. Momen inilah yang justru menjadi salah satu bagian paling menghibur. Mereka melihat kondisi barisan masing-masing dan baru menyadari bahwa formasi yang pada awalnya tersusun rapi ternyata sudah berubah ke berbagai penjuru. Ada yang masih berdekatan, ada yang sudah bergeser, bahkan beberapa peserta tampak berada di posisi yang sama sekali tidak sesuai dengan formasi awal. Gelak tawa pun kembali pecah. Meski terlihat sederhana dan penuh keseruan, lomba ini ternyata memberikan pengalaman yang cukup bermakna: ketika mata tidak bisa menjadi panduan, maka telinga harus lebih peka, pikiran harus lebih fokus, dan setiap anggota harus benar-benar percaya pada komando.
Lomba PBB dengan mata tertutup ini akhirnya bukan hanya menjadi perlombaan untuk mencari siapa yang paling tepat dalam melakukan gerakan, tetapi juga menjadi ruang belajar yang dikemas dengan kegembiraan. Para murid belajar bahwa kekompakan membutuhkan komunikasi, kedisiplinan membutuhkan konsentrasi, dan sebuah tim akan sulit bergerak seirama jika setiap anggotanya tidak mampu mendengarkan dan mengikuti arahan. Di tengah semarak HUT RI ke-81, MTs Negeri 3 Banyumas kembali membuktikan bahwa kemerdekaan juga bisa dirayakan dengan cara yang kreatif, edukatif, dan penuh tawa. Hari ini mereka mungkin salah arah saat PBB dengan mata tertutup, tetapi setidaknya mereka menemukan satu arah yang sama: bahagia, kompak, dan merayakan kemerdekaan bersama Matsanega!(HumasMTsN3).
