Penyuluh KUA Pekuncen Hadiri Pertemuan Rutin IPARI Banyumas, Kenakan Busana Adat Banyumasan sebagai Wujud Penghormatan Budaya
Oleh KUA pekuncen
Pekuncen – Penyuluh Agama Islam KUA Pekuncen, Sriyanto, Miftakhul Faozi, Rohmat, dan Fadlilatun Ni'mah, menghadiri Pertemuan Rutin Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Banyumas yang diselenggarakan di Balai Pertemuan Adat Bonokeling (Griyo Singgah), Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang. Rabu (15/07)
Suasana pertemuan kali ini terasa istimewa karena seluruh penyuluh agama yang hadir mengenakan busana adat Banyumasan, yakni atasan hitam dipadukan dengan kain batik. Penampilan tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus mempertegas komitmen penyuluh agama dalam merawat harmoni antara nilai-nilai keagamaan dan budaya.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Desa Pekuncen, Karso, yang menyampaikan selayang pandang mengenai masyarakat adat Bonokeling. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Bonokeling merupakan bagian dari binaan para penyuluh agama. Menurutnya, masyarakat tidak boleh menilai hanya dari penampilan luar, seperti pakaian hitam yang dikenakan warga Bonokeling, karena hal tersebut merupakan identitas budaya masyarakat Jawa yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat.
Karso menegaskan bahwa berbagai ritual yang dijalankan masyarakat Bonokeling lebih merupakan praktik keagamaan yang dikemas dalam balutan budaya dan tradisi Jawa. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menjunjung tinggi pitutur luhur para leluhur serta menggunakan sapaan Kyai dan Nyai sebagai bentuk penghormatan. Di akhir sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh agama yang selama ini terus mendampingi masyarakat Bonokeling serta menjaga semangat toleransi yang telah diwariskan para leluhur.
Ketua PD IPARI Kabupaten Banyumas, Lubab Habiburrohman, S.H., M.H., menyampaikan terima kasih kepada para sesepuh adat Bonokeling yang telah mempersiapkan tempat beserta seluruh kebutuhan kegiatan. Ia juga mengapresiasi seluruh penyuluh agama yang hadir mengenakan pakaian adat Banyumasan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya setempat.
Menurutnya, kehadiran IPARI bukan untuk menilai tradisi masyarakat Bonokeling, melainkan untuk mengenal lebih dekat kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa keturunan Bonokeling merupakan bagian dari umat Islam yang tetap menjaga warisan budaya leluhur. Melalui semangat Rajut Topi Mas, diharapkan nilai toleransi, persaudaraan, dan kerukunan terus tumbuh di tengah keberagaman masyarakat Banyumas.
Dalam kesempatan tersebut, Kasi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, H. Agus Setiawan, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Porseni IPARI Kabupaten Banyumas. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh penyuluh agama yang dinilai telah mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat melalui program-program pembinaan keagamaan.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Dr. H. Ibnu Asaddudin, S.Ag., M.Pd., memberikan pembinaan kepada seluruh peserta. Beliau mengingatkan pentingnya sikap rendah hati bagi setiap insan yang menekuni ilmu agama. Menurutnya, seseorang boleh meyakini ajaran yang dianutnya sebagai kebenaran, namun tidak boleh merasa dirinya paling baik dibandingkan orang lain. Sikap saling menghormati dan menghargai menjadi fondasi utama dalam menjaga kerukunan hidup bermasyarakat.
Pada sesi berikutnya, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Banyumas, Agus Sriyono, ATD., S.IP., M.M., memberikan sosialisasi mengenai pentingnya administrasi kependudukan. Ia mengajak masyarakat untuk melengkapi dokumen kependudukan seperti akta kelahiran, Kartu Keluarga, KTP, maupun Kartu Identitas Anak (KIA).
Beliau menjelaskan bahwa pencatatan pernikahan menjadi dasar penerbitan berbagai dokumen administrasi lainnya, termasuk akta kelahiran anak. Pelayanan administrasi kependudukan kini semakin mudah melalui aplikasi "Gratis Kabeh" serta layanan jemput bola yang rutin dilaksanakan hingga ke desa-desa, termasuk wilayah Pekuncen. Ia juga mengingatkan agar setiap warga menggunakan satu nama resmi pada seluruh dokumen kependudukan dan menjelaskan kemudahan pembuatan akta kelahiran melalui mekanisme SPTJM bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan.
Sebagai penutup, sesepuh adat Bonokeling, Kyai Sumitro, menyampaikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat Bonokeling. Ia menjelaskan bahwa lokasi kegiatan bernama Griyo Singgah, yang menjadi ruang berkumpul masyarakat adat. Menurutnya, warga Bonokeling senantiasa memegang teguh nilai guyub lan rukun, memandang seluruh manusia sebagai saudara, termasuk mereka yang berbeda agama karena sama-sama merupakan keturunan Nabi Adam.
Kyai Sumitro juga berharap adanya dukungan dari berbagai pihak untuk pengembangan kegiatan keagamaan masyarakat, termasuk bantuan sarana berupa tratag, meja, dan kursi agar kegiatan pengajian dapat berlangsung lebih nyaman.
Melalui pertemuan rutin ini, IPARI Kabupaten Banyumas tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi antarpenyuluh agama, tetapi juga memperkuat komitmen dalam merawat kerukunan, menghargai kearifan lokal, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya administrasi kependudukan sebagai bagian dari pelayanan publik yang berkualitas. Keunikan pertemuan yang diwarnai dengan penggunaan busana adat Banyumasan menjadi simbol bahwa dakwah dapat berjalan selaras dengan pelestarian budaya lokal sebagai kekayaan bangsa.
