PTM Terbatas GPAI Gunakan Blended Learning

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto: Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sudah mulai dilaksanakan di wilayah Kabupaten Banyumas meski masih dalam suasana terbatas diperluas karena di Kabupaten Banyumas terkait dengan Pandemi Covid-19 masih berada di level 3 (tiga) sesuai dengan edaran Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 47 Tahun 2021. SMA Negeri 4 Purwokerto salah satu sekolah yang melaksanakan PTM terbatas diperluas di Kabupaten Banyumas dengan pola pembelajaran tatap muka separuh atau 50% dari jumlah peserta didik di kelasnya dan yang separuh lagi dilaksanakan secara Daring di rumah masing-masing. (11/10)

Drs. Sujiman, M.A, selaku ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) PAI ketika dihubungi melalui chats whatsapp menyampaikan, “boleh-boleh  saja Blended Learning diterapkan untuk pembelajaran, meski tentu ada kelebihan disamping juga kelemahan. Dalam situasi pandemi, sangat membantu guru dan peserta didik jika pembelajaran PAI khususnya menggunakan Blended Learning”. 
Lebih lanjut Ia menyampaikan “prinsip yang esensial dari Blanded Learning adalah mengkombinasikan antara pertemuan secara luring atau pertemuan tatap muka dengan pertemuan daring yang menggunakan teknologi. Dengan demikian terjadi proes pembelajaran yang lintas ruang, jarak dan waktu. Namun proses ini tidak serta merta bisa kita sebut dengan blended learning ketika ada dua elemen itu”, pungkas Sujiman.

Sementara Dra. Siti Nurhidayati, M.Pd.I Pengawas PAI SMA dan SMK Kementerian Agama Kabupaten Banyumas sangat mendukung jika sekolah yang sudah menjalankan Pembelajaran Tatap Muka terbatas ini dan Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dapat menerapkan pembelajaran dengan model Blanded Learning. “ya sangat direkomendasikan, kondisi begini yang paling pas ya blended learning, tuturnya.

Dudiyono, M.Pd.I, salah satu guru PAI di SMA Negeri 4 Purwokerto mengungkapkan, “era pandemi covid-19 memberikan hikmah kepada kita sebagai guru PAI untuk senantiasa berinovasi dalam pembelajaran di era digital sekarang, salah satunya kita sebagai guru PAI harus siap belajar untuk selalu memperbaiki model pembelajaran yang dilakukan agar peserta didik dapat terlayani dengan baik, salah satunya menggunakan blended learning. Dengan blended learning semua peserta didik baik yang belajar secara offline di dalam kelas maupun online dari rumah masing masing dapat terlayani dengan baik dan materi yang disampaikanpun sama sehingga ketika minggu depannya bergantian dengan peserta didik yang berbeda di kelas tersebut tidak harus mengulang kembali materi yang sudah diajarkan”, jelas Dudi.

“Dalam satu kelas ada 36 peserta didik yang ini terbagi menjadi dua kelompok, nomor presensi 1-18 belajar di dalam kelas secara offline dan nomor presesnsi 19-36 secara online dari rumah masing-masing. Kondisi seperti ini maka perlu disikapi dengan blended learning, yang secara teknis sangat membantu melayani peserta didik semua karena tidak terbatasi dimensi tempat meskipun berbeda tempat . Kita menjelaskan secara offline di dalam kelas namun langsung terkoneksikan dengan peserta didik secara online di rumah masing-masing melalui Google Meet yang sekaligus ditayangkan melalui LCD Proyektor sehingga peserta didik di kelaspun dapat melihat temannya yang sedang belajar di rumah. Untuk materi dan presensi kita dapat menggunakan Google Class Room untuk berkomunikasi dengan peserta didik dan dibantu dengan komunikasi di WatsApp Grup mata pelajaran”, pungkas Dudi. (Du/Tum)