Rumah Tangga Penuh Kasih Sayang dan Keberkahan Terbangun di Tinggarjaya
Oleh KUA JATILAWANGBanyumas - Di tengah suasana Desa Tinggarjaya yang tenang dan bersahaja, sebuah peristiwa sakral kembali mengukir makna mendalam tentang cinta dan harapan. Iskandar Zulkarnain, Penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Jatilawang, memimpin langsung prosesi pencatatan nikah dan ijab kabul pasangan Suwarno dan Eri yang berlangsung khidmat pada Selasa (07/04).
Sejak awal prosesi, aula pertemuan telah dipenuhi nuansa haru. Wajah-wajah keluarga yang hadir memancarkan kebahagiaan yang tertahan, menyadari bahwa momen yang mereka saksikan bukan sekadar seremoni rutin, melainkan tonggak sejarah yang akan dikenang sepanjang hayat.
Saat ijab kabul dilangsungkan, waktu seakan berhenti sejenak. Dengan suara mantap namun sarat emosi, Suwarno mengucapkan lafal ijab di hadapan penghulu dan para saksi. Kalimat yang terucap bukan sekadar janji lisan, melainkan ikrar suci yang mengikat dua jiwa dalam satu tujuan: membangun rumah tangga yang penuh kasih sayang dan keberkahan.
Eri, yang duduk dengan anggun di sampingnya, tak kuasa menahan haru. Air mata yang perlahan jatuh menjadi saksi bisu bahwa perjalanan menuju hari ini bukanlah tanpa ujian. Namun, di titik itulah segala penantian dan doa-doa yang dipanjatkan akhirnya menemukan jawabannya.
Dalam kesempatan tersebut, Iskandar Zulkarnain menyampaikan khutbah nikah yang menyentuh kalbu. Ia menegaskan bahwa pernikahan adalah awal dari perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, pengertian, dan komitmen yang tak tergoyahkan.
“Cinta bukan hanya tentang merayakan kebahagiaan hari ini, tetapi tentang kesediaan untuk tetap bertahan dan saling menguatkan di hari-hari yang akan datang,” tutur Iskandar dengan penuh kelembutan kepada kedua mempelai.
Prosesi berlangsung dengan sederhana, namun justru di situlah letak keindahannya. Tanpa gemerlap yang berlebihan, setiap detik terasa begitu jujur dan tulus. Doa-doa tulus mengalir dari para tamu, mengiringi langkah awal Suwarno dan Eri dalam mengarungi bahtera rumah tangga di bawah ridha Ilahi.
Peristiwa di Desa Tinggarjaya hari ini menjadi pengingat bagi siapa saja bahwa di balik kesederhanaan, terdapat kekuatan keyakinan yang luar biasa. Ketika prosesi usai, yang tersisa bukan hanya senyum bahagia, tetapi juga jejak air mata—air mata syukur tentang indahnya sebuah pertemuan yang telah ditakdirkan sejak lama. (Humas)
