Sentuh Akar Rumput, Penyuluh KUA Gumelar Ajak Jamaah MT Al-Hikmah Jadi Pelopor Kedamaian
Oleh HUMAS
Gumelar – Kantor Urusan Agama (KUA) Gumelar terus gencar mengampanyekan pentingnya merawat harmoni sosial di tengah masyarakat. Hal ini dibuktikan melalui kegiatan safari penyuluhan keagamaan yang digelar di Majelis Taklim (MT) Al-Hikmah, Kecamatan Gumelar. Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam, Warto, hadir memberikan tausiyah mendalam mengenai pentingnya menjaga kerukunan antar-sesama. Rabu (08/07)
Di hadapan puluhan jamaah yang hadir, Warto menegaskan bahwa menjaga kedamaian dan hubungan baik dengan sesama manusia (Hablum Minannas) bukanlah sebuah opsi, melainkan bagian mutlak dari perwujudan keimanan seorang muslim.
"Kerukunan bukanlah sekadar bersikap pasif atau sekadar tidak saling mengganggu. Lebih dari itu, kerukunan adalah wujud kepedulian, gotong royong, dan rasa saling menghargai antarsesama," tutur Warto dengan penuh penekanan.
Penyampaian materi oleh Warto yang hangat, komunikatif, serta diselingi dengan contoh-contoh riil dalam kehidupan sehari-hari membuat pesan-pesan keagamaan yang disampaikan terasa ringan dan mudah dipahami jamaah. Dalam tausiyahnya, ada tiga poin penting yang menjadi sorotan utama:
-
Mengedepankan Budaya Tabayyun: Jamaah diingatkan untuk selalu menyaring, memeriksa kembali, dan memvalidasi setiap informasi yang diterima. Sikap ini krusial agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh berita bohong (hoaks) atau isu provokatif yang berpotensi memecah belah warga.
-
Toleransi dalam Keseharian: Mengamalkan sikap saling menghormati dan ringan tangan dalam membantu urusan sosial kemasyarakatan, tanpa harus memandang latar belakang golongan maupun agama.
-
Agama sebagai Sumber Kedamaian: Mengembalikan fungsi mendasar agama sebagai panduan moral utama yang membawa rahmatan lil 'alamin—yakni membawa menebarkan kasih sayang dan kedamaian bagi semesta alam.
Melalui mimbar Majelis Taklim Al-Hikmah ini, KUA Gumelar mengajak seluruh jamaah untuk tidak sekadar menjadi pendengar pasif, melainkan berani melangkah menjadi agen dan pelopor perdamaian di lingkungan mereka. Langkah besar tersebut diimbau untuk dimulai dari lingkup terkecil, yakni dari dalam keluarga, sebelum akhirnya meluas ke lingkungan tetangga hingga tingkat desa.
Kegiatan pengajian ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai rutinitas pemenuhan spiritual semata. Lebih dari itu, forum ini ditargetkan mampu menjadi stimulus atau pendorong lahirnya tatanan masyarakat Kecamatan Gumelar yang semakin harmonis, rukun, dan damai. Pesan manis dari KUA Gumelar ini menjadi pengingat berharga bahwa di tengah berbagai perbedaan dan keberagaman, seluruh warga pada hakikatnya dipersatukan oleh rasa kemanusiaan serta tali persaudaraan yang kuat.
