Silaturahmi Lintas Iman di Sokaraja Kidul, Penyuluh KUA Dengan Pemilik Toko Diva
Oleh KUA Sokaraja
Sokaraja — Merawat kerukunan tidak selalu harus dimulai dari forum besar. Terkadang, ia tumbuh dari percakapan sederhana, secangkir keramahan, dan kemauan untuk saling mengenal. Semangat itulah yang tercermin dalam silaturahmi lintas iman yang dilakukan Muhamad Nuh, Penyuluh Agama Islam pada satuan kerja KUA Sokaraja, dengan salah satu pemeluk agama Buddha di wilayah binaannya, Bong Roni Buntoro, di Sokaraja Kidul, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Rabu (30/09)
Silaturahmi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan kepedulian lintas iman di Desa Pancasila Sokaraja Kidul, sebuah wilayah yang memiliki keberagaman pemeluk agama dan kehidupan sosial masyarakat.
Bong Roni Buntoro merupakan pemilik Toko Diva, yang beralamat di Jl. Jenderal Gatot Subroto No. 33, Sokaraja, yang menyediakan berbagai kebutuhan sepatu dan tas sekolah dengan beragam merek dan jenis.
Pertemuan berlangsung dalam suasana gayeng, terbuka, dan penuh keakraban. Keduanya berbincang mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, termasuk pentingnya membangun komunikasi lintas iman serta penguatan peran PKUB di Kecamatan Sokaraja dalam menjaga kerukunan masyarakat.
Menurut Muhamad Nuh, silaturahmi lintas iman merupakan langkah sederhana tetapi memiliki makna yang besar. Perbedaan keyakinan tidak semestinya menjadi sekat dalam membangun hubungan sosial. Justru melalui komunikasi yang baik, masyarakat dapat saling memahami dan bersama-sama menjaga lingkungan yang aman, damai, dan tenteram.
“Kerukunan tumbuh ketika kita mau saling mengenal, saling menghormati, dan peduli. Perbedaan iman bukan alasan untuk menjauh, tetapi menjadi ruang untuk belajar hidup berdampingan dengan penuh penghormatan,” menjadi semangat dalam silaturahmi tersebut.
Pembicaraan juga menyoroti pentingnya membangun kepedulian lintas iman di tengah masyarakat. Pemerintah, tokoh agama, penyuluh, pemuda, pelaku usaha, dan seluruh elemen masyarakat memiliki ruang yang sama untuk mengambil bagian dalam menjaga suasana kehidupan yang harmonis.
Bagi wilayah Sokaraja, keberagaman merupakan bagian dari wajah masyarakat. Karena itu, menjaga kerukunan bukan hanya tugas tokoh agama atau pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.
Silaturahmi tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa kedamaian tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan untuk menghargai perbedaan. Dari ruang-ruang kecil tempat orang berbicara dengan hati terbuka, tumbuh kepercayaan; dari kepercayaan, lahir kepedulian; dan dari kepedulian, terjaga kerukunan.
Melalui langkah-langkah sederhana seperti ini, Penyuluh Agama Islam KUA Sokaraja terus mendorong hadirnya komunikasi yang sejuk dan konstruktif di tengah masyarakat. Harapannya, semangat kebersamaan lintas iman dapat terus tumbuh sehingga Sokaraja menjadi wilayah yang damai, tenteram, saling menghormati, dan kuat dalam semangat persaudaraan kemanusiaan.
