Takir dalam Walimahan Maulid: Simbol Doa, Syukur, dan Kebersamaan di KUA Ajibarang
Oleh HUMAS
Ajibarang - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA) Ajibarang berlangsung khidmat dan lancar, diperkaya dengan tradisi takir sebagai bagian dari walimahan atau tasyakuran. Kegiatan yang dihadiri Kepala KUA, seluruh pegawai, serta para Pembantu Penghulu Nikah (P3N)/Kayim ini diinisiasi oleh para Sri Kandi-perempuan pegawai KUA Ajibarang sebagai wujud nyata pelestarian nilai spiritual dan kearifan lokal dalam suasana keagamaan. Rabu (09/09)
Takir, yakni wadah nasi rames berbungkus daun pisang yang disemat lidi, bukan sekadar hidangan pelengkap, melainkan media penyampai makna filosofis yang dalam. Bentuk lipatannya yang menguncup melambangkan tangan menadah doa, simbol kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta. Daun pisang merepresentasikan kehidupan yang pantang mati sebelum memberi manfaat, lidi penyematnya menjadi metafora keteguhan iman dan tekad menjaga kerukunan, sementara nasi rames dengan aneka lauk menggambarkan harmoni keberagaman yang menyatu dalam semangat gotong royong, nilai yang relevan pula sebagai doa bagi kehidupan rumah tangga yang dibangun dari pikiran bersih, rasa syukur, dan ikatan kebaikan.
Melalui walimahan berbasis takir ini, KUA Ajibarang tidak hanya memperingati kelahiran Nabi, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi yang sarat makna sebagai penguat identitas keagamaan dan sosial. Inisiatif para Sri Kandi menjadi teladan bagaimana perempuan berperan aktif dalam merawat warisan budaya sekaligus memperkuat solidaritas internal lembaga. Dengan demikian, setiap gigitan nasi dalam takir menjadi pengingat akan tanggung jawab bersama untuk hidup bermanfaat, rukun, dan penuh syukur.
