Tiga Guru Banyumas Raih Penghargaan Pada Festival Syair Internasional
Oleh HUMAS
Purwokerto (Humas)- Prestasi membanggakan kembali diukir oleh tiga guru Banyumas dalam event bergengsi Festival Syair Internasional yang diprakarsai oleh Forum PERRUAS (Perkumpulan Rumah Seni Asnur) di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Minggu (31/12)
Acara yang digelar dari tanggal 29-31 Desember ini diikuti oleh peserta dari berbagai negara termasuk Indonesia.Sedangkan dari Kabupaten Banyumas diwakili oleh tiga guru Kemenag Kabupaten Banyumas yang sekaligus menjadi penulis buku antologi syair dunia. Capain ini berhasil dicatat dalam Rekor Muri yaitu buku syair dengan penulis terbanyak.
Di event tersebut Isnawati Miladiyah (Guru MI Muhammadiyah Karanglewas Kidul) dengan karyanya “Syair Pariwisata Indah di Banyumas”, Serli Susilowati (Guru MIN 1 Banyumas) dengan karya syair berjudul Indonesia Negeriku, dan Lailla Nurul Q. (Guru PAI SD N 1 Sokanegara) dengan karya syair berjudul “Negeri Seribu Candi”, bersama tiga delegasi perwakilan Provinsi Jawa Tengah lainnya diberi kesempatan untuk tampil dalam sesi Parade Syair.
Dalam buku inilah ketiga karya syair guru Banyumas berhasil lolos kurasi sehingga mendapatkan penghargaan sebagai penulis internasional bersanding dengan ribuan karya dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Amerika, Brunei Darussalam, Australia dan Italia. Di samping itu, ketiganya juga diberi kesempatan untuk tampil di panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki Jakarta dalam acara Pembukaan Festival Syair Internasional membawakan sehimpun syair dalam bingkai kearifan lokal iringan musik tradisional Provinsi Jawa Tengah.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas Ibnu Asaddudin menyatakan bahwa dengan pencapaian ini tentu menjadi sebuah bukti, bahwasanya guru agama, guru kelas atau guru mapel lainnya memiliki kemampuan serta kesempatan bersaing positif dalam berbagai event lokal, nasional, bahkan internasional.
”Kesuksesan prestasi bukanlah suatu kebetulan, tapi dari kerja keras, kegigihan, keinginan belajar, dan pengorbanan. Kesempatan menjadi pengibar panji-panji organisasi merupakan kesuksesan yang juga harus bermanfaat bagi sekitarnya, dengan membawa nama baik organisasi serta memotivasi yang lain untuk berkarya bukan hanya suka menjadi penonton” ungkapnya
Sementara itu penggagas sekaligus ketua Perruas Asrizal Nur, mengungkapkan bahwa pelaksanaan acara tersebut bertujuan membangun habituasi dan kecintaan masyarakat pada syair.
“Dengan diadakannya acara ini menjadikan sastra sebagai spirit kehidupannya. Sastra kembali pada masyarakat yang dulunya berupa syair, pantun, dan gurindam,” jelasnya .
Senada dengan apa yang disampaikan oleh ketua Perruas, Sam Muchtar Chaniago selaku ketua panitia event menegaskan kembali bahwa kegiatan ini semata ditujukan untuk melestarikan dan mengangkat budaya bangsa di kancah internasional.
“Tahun ini, puncak acara Festival Syair Internasional dikemas dengan sangat menarik karena ditutup dengan orasi budaya oleh Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, penampilan syair klasik dari Malaysia serta pemberian anugerah syair lainnya,” pungkasnya.(yud/jul)
Editor: Tumenggung
