Hangatnya Halal Bihalal Saat Kata Maaf Menjadi Jembatan Hati

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Dalam suasana yang masih lekat dengan nuansa Idulfitri, gema silaturahmi kembali mengalun indah di Desa Canduk. Di tengah kebersamaan yang sederhana namun penuh makna, kegiatan Pengajian Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Muslimat setempat menghadirkan kehangatan yang tak sekadar terasa, tetapi juga menyentuh relung hati terdalam. Senin (06/04)

Acara yang berlangsung dengan khidmat tersebut menghadirkan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, sebagai pengisi tausiyah. Kehadirannya menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang rindu akan ketenangan, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga hubungan antarsesama setelah sebulan penuh ditempa dalam madrasah Ramadan.

Sejak awal acara, para jamaah yang mayoritas ibu-ibu Muslimat tampak khusyuk mengikuti rangkaian kegiatan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an membuka suasana dengan penuh keberkahan, diikuti dengan doa-doa yang melangit, membawa harapan agar setiap hati yang hadir dilapangkan dan setiap kesalahan dimaafkan.

Dalam tausiyahnya, Muhammad Taubah menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat Halal Bihalal sebagai momentum untuk membersihkan hati dan mempererat ukhuwah. Dengan tutur kata yang lembut namun penuh makna, ia mengajak seluruh jamaah untuk tidak sekadar mengucapkan maaf di bibir, tetapi benar-benar menghadirkannya dari kedalaman hati.

“Kadang yang paling sulit bukan meminta maaf, tetapi memaafkan dengan tulus. Namun di situlah letak kemuliaan seorang hamba—ketika ia mampu mengalahkan egonya demi meraih ridha Allah,” ungkapnya, yang seketika membuat suasana menjadi hening dan penuh haru.

Beberapa jamaah tampak menyeka air mata. Bukan karena kesedihan, melainkan karena tersentuh oleh pesan yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di momen itulah, Halal Bihalal bukan lagi sekadar tradisi tahunan, melainkan ruang perenungan yang menghidupkan kembali nilai-nilai kasih sayang dan persaudaraan.

Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata peran aktif KUA Jatilawang dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat. Melalui sentuhan dakwah yang humanis dan menyentuh, nilai-nilai Islam disampaikan dengan cara yang mudah diterima, namun tetap membekas dalam hati.

Menutup tausiyahnya, Muhammad Taubah mengajak seluruh jamaah untuk menjaga semangat Idulfitri sepanjang tahun. “Jangan biarkan hati kembali kotor setelah kita bersihkan. Jadikan momen ini sebagai awal untuk menjadi pribadi yang lebih lembut, lebih sabar, dan lebih mencintai sesama,” pesannya penuh harap.

Di Desa Canduk yang sederhana, hari itu menjadi istimewa. Dalam pelukan maaf dan jabat tangan yang hangat, tersimpan doa-doa yang tak terucap. Sebab terkadang, yang paling menyentuh bukanlah kata-kata panjang, melainkan ketulusan yang hadir dalam diam—saat hati saling memaafkan, dan cinta kembali menemukan jalannya.