Hati yang Saling Melengkapi dalam Ketidaksempurnaan

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di Balai Nikah, Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, dengan penuh kelembutan dan keteduhan hati, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Ari Putra Ramadhan dan Atik Muriyanti. Dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban, beliau mengangkat tema yang sederhana namun begitu dalam maknanya: keikhlasan seorang istri dalam menerima kekurangan suami. (Rabu, 1/4)

Dengan tutur kata yang pelan namun menggetarkan jiwa, Muhammad Taubah mengajak Atik Muriyanti—dan juga Ari Putra Ramadhan—untuk memahami bahwa pernikahan bukanlah pertemuan dua insan yang sempurna, melainkan pertemuan dua hati yang siap saling melengkapi dalam ketidaksempurnaan.

“Tidak ada manusia yang utuh tanpa cela. Maka dalam rumah tangga, keikhlasan adalah jembatan yang menyatukan dua kekurangan menjadi kekuatan,” ungkapnya dengan mata yang teduh, seolah menyampaikan bukan hanya nasihat, tetapi juga pengalaman hidup yang penuh hikmah.

Ari Putra Ramadhan tampak menundukkan kepala, menyimak setiap kata dengan kesungguhan. Sementara Atik Muriyanti sesekali mengusap sudut matanya yang mulai basah. Ada kesadaran yang perlahan tumbuh—bahwa cinta bukan sekadar rasa, melainkan keputusan untuk tetap bertahan, menerima, dan memaafkan.

Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah juga menegaskan bahwa keikhlasan seorang istri bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kekuatan yang lahir dari keteguhan hati. Ia adalah cahaya yang mampu menerangi kekurangan, mengubah keluh menjadi syukur, dan menjadikan rumah tangga sebagai tempat yang penuh ketenangan.

Suasana menjadi hening, namun sarat makna. Tak ada kata yang terbuang sia-sia. Setiap kalimat seolah mengetuk pintu hati, menyadarkan bahwa perjalanan pernikahan kelak akan dipenuhi ujian—namun juga dipenuhi peluang untuk saling menguatkan.

Bimbingan itu pun menjadi lebih dari sekadar sesi pembekalan. Ia menjelma menjadi ruang perenungan, tempat di mana dua calon pengantin belajar memaknai cinta dengan cara yang lebih dewasa dan mendalam.

Di KUA Jatilawang, kisah kecil itu kembali terukir—tentang bagaimana cinta dipersiapkan bukan hanya dengan janji, tetapi juga dengan keikhlasan. Tentang bagaimana seorang istri kelak akan belajar menerima, dan seorang suami belajar memperbaiki. Dan di antara keduanya, ada harapan besar yang tumbuh: membangun rumah tangga yang tidak sempurna, namun penuh keberkahan.