Membumikan Al-Quran Sejak Dini: Menengok Rutinitas Ngaji Sorogan di MT An Najah Selandaka

Oleh KUA SUMPIUH
SHARE

Banyumas – Suara riuh rendah lantunan ayat suci Al-Qur’an dan iqra menyelimuti Mushola Kedung Santen, Desa Selandaka, setiap kali sang surya terbenam. Di bawah asuhan Penyuluh Agama Islam, Laeli Najihah, Majelis Taklim (MT) An Najah secara istiqamah menyelenggarakan kegiatan ngaji rutin ba’da Maghrib bagi anak-anak dan remaja setempat. Senin (06/04)

Metode yang diterapkan di majelis ini adalah sorogan, sebuah tradisi klasik pesantren di mana santri menghadap guru satu per satu untuk membaca kitab atau Al-Qur’an. Metode ini dipilih agar kualitas bacaan setiap santri dapat dipantau secara mendalam dan personal.

Kegiatan mengaji di MT An Najah dibagi berdasarkan tingkatan kemampuan santri, yang meliputi:

  • Tingkat Dasar (Iqro’): Fokus pada pengenalan huruf hijaiyah, makhrajul huruf, dan kelancaran membaca dasar.

  • Tingkat Lanjutan (Al-Qur’an): Diperuntukkan bagi santri yang sudah mulai mengkhatamkan Iqro’ dan beralih ke mushaf Al-Qur’an.

Bukan sekadar membaca, Laeli Najihah juga menyisipkan materi Tajwid di sela-sela setoran bacaan. Para santri diajarkan hukum-hukum bacaan secara praktis, mulai dari hukum Nun Sukun/Tanwin, Mad, hingga tata cara waqaf dan washal. Hal ini bertujuan agar santri tidak hanya lancar membaca, tetapi juga benar secara kaidah ilmu tajwid.

"Tujuan utama kami adalah mencetak generasi yang cinta Al-Qur'an dan memiliki pemahaman agama yang benar sejak dini. Melalui metode sorogan, keterikatan batin antara guru dan murid lebih kuat, dan kesalahan bacaan bisa langsung diperbaiki saat itu juga," ujar Ibu Laeli Najihah di sela kesibukannya membimbing santri.

Kegiatan yang berpusat di Mushola Kedung Santen ini diharapkan menjadi benteng moral bagi anak-anak di lingkungan Selandaka. Dengan bimbingan penyuluh agama yang berkompeten, MT An Najah terus berkomitmen menjaga nyala obor pendidikan Al-Qur’an agar tetap terang di hati generasi muda.