Menyebut Nama Allah, Meneguhkan Spirit Pengabdian
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Fajar Jumat selalu membawa suasana yang berbeda. Cahaya mentari yang perlahan menyapa bumi seakan mengiringi langkah-langkah para abdi negara yang datang bukan hanya untuk memulai pekerjaan, tetapi juga untuk menguatkan hati dengan mengingat Sang Pencipta. Jumat (03/07)
Di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, pagi Jumat menjadi waktu yang penuh keberkahan. Kepala KUA Jatilawang, para Penyuluh Agama, Penghulu, serta seluruh staf KUA secara rutin melaksanakan pembacaan Asmaul Husna dengan penuh kekhusyukan dan kekhidmatan sebelum memulai aktivitas pelayanan kepada masyarakat.
Lantunan sembilan puluh sembilan nama Allah menggema lembut memenuhi setiap sudut ruangan. Suara yang mengalun serempak itu bukan sekadar rangkaian bacaan, melainkan doa yang menyejukkan jiwa, menguatkan niat, serta menjadi pengingat bahwa setiap amanah pelayanan adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Dengan penuh penghayatan, seluruh pegawai menundukkan hati dan menyatukan harapan agar setiap langkah pengabdian senantiasa diberi kemudahan, keikhlasan, dan keberkahan. Dalam keheningan yang sarat makna itu, tidak ada perbedaan jabatan maupun tugas. Kepala kantor, penghulu, penyuluh agama, dan staf duduk berdampingan sebagai hamba yang sama-sama memohon pertolongan kepada Rabb Yang Maha Pengasih.
Amalan rutin tersebut telah menjadi budaya spiritual yang terus dipelihara di lingkungan KUA Jatilawang. Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin dinamis, pembacaan Asmaul Husna menjadi sumber ketenangan batin sekaligus pengingat bahwa pelayanan terbaik lahir dari hati yang bersih, niat yang tulus, dan akhlak yang mulia.
Bagi keluarga besar KUA Jatilawang, bekerja bukan semata menyelesaikan administrasi atau memenuhi target kinerja. Lebih dari itu, setiap dokumen yang ditandatangani, setiap pasangan yang dibimbing menuju pernikahan, setiap warga yang dilayani, hingga setiap persoalan umat yang didampingi merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan kemaslahatan. Semua itu diawali dengan memohon keberkahan melalui lantunan nama-nama Allah yang agung.
Kepala KUA Jatilawang menegaskan bahwa pembinaan spiritual menjadi fondasi penting dalam membangun integritas aparatur. Ketika hati senantiasa dekat kepada Allah SWT, maka pelayanan kepada masyarakat akan dilakukan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang.
Suasana yang tercipta setiap Jumat pagi menghadirkan pemandangan yang sederhana, namun begitu menyejukkan. Bibir melafalkan zikir, hati dipenuhi harapan, dan mata memancarkan ketulusan. Di balik kesederhanaan itu tersimpan kekuatan besar yang menjadi bekal dalam melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan sering membuat manusia lupa untuk berhenti sejenak, keluarga besar KUA Jatilawang memilih memulai hari dengan mengingat Allah. Sebab mereka meyakini, pelayanan yang terbaik bukan hanya lahir dari kecakapan bekerja, tetapi juga dari hati yang selalu basah oleh zikir dan jiwa yang senantiasa bersandar kepada-Nya.
Semoga lantunan Asmaul Husna yang terus menggema setiap Jumat pagi menjadi cahaya yang menerangi langkah pengabdian seluruh keluarga besar KUA Jatilawang, menguatkan persaudaraan, menghadirkan keberkahan dalam setiap pelayanan, serta menjadi inspirasi bahwa membangun masyarakat yang baik selalu diawali dengan membangun hati yang dekat kepada Allah SWT.
