HUT RI #81

Penyuluh KUA Jatilawang Setia Dampingi Santri Gapai Mimpi di Ajang FASI

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di balik gemerlap semangat anak-anak yang mengikuti Seleksi Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) Tingkat Kecamatan Jatilawang, tersimpan ketulusan hati para pendidik yang tanpa lelah menanamkan nilai-nilai keislaman sejak usia dini. Salah satu sosok yang hadir mengiringi langkah para generasi Qurani itu adalah Ustadzah Dwi Astuti, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, yang dengan penuh kasih mendampingi santri TPQ Miftahul Huda Desa Adisara selama mengikuti rangkaian perlombaan. Senin (29/06)

Sejak pagi, wajah-wajah mungil para santri memancarkan harapan. Dengan pakaian terbaik dan doa yang mengalir dari orang tua serta para guru, mereka melangkah menuju arena seleksi bukan sekadar untuk meraih prestasi, melainkan sebagai ikhtiar menampilkan hasil pembinaan yang telah ditempa melalui kesabaran, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap Al-Qur'an.

Di tengah hiruk-pikuk perlombaan, Ustadzah Dwi Astuti senantiasa hadir memberikan motivasi, membimbing, serta menenangkan para santri yang diliputi rasa gugup. Senyum hangat, tutur kata yang lembut, dan doa yang terus terucap menjadi kekuatan tersendiri bagi anak-anak untuk tampil percaya diri. Pendampingan tersebut menjadi bukti bahwa keberhasilan seorang anak bukan hanya lahir dari kecerdasannya, tetapi juga dari kasih sayang para guru yang mengiringi setiap langkah perjuangannya.

Festival Anak Sholeh Indonesia merupakan wahana pembinaan generasi muda agar tumbuh menjadi insan yang berakhlak mulia, mencintai Al-Qur'an, dan memiliki keberanian menampilkan kemampuan terbaiknya di hadapan masyarakat. Lebih dari sekadar perlombaan, FASI menjadi ruang pembentukan karakter, tempat anak-anak belajar tentang kejujuran, sportivitas, disiplin, dan keikhlasan menerima setiap hasil yang telah Allah SWT tetapkan.

Kehadiran Ustadzah Dwi Astuti sebagai Penyuluh Agama KUA Jatilawang mencerminkan komitmen nyata KUA dalam mendukung pembinaan generasi Qurani. Peran penyuluh agama tidak berhenti pada penyampaian dakwah, tetapi juga menyentuh pembentukan karakter, penguatan mental spiritual, serta pendampingan kepada lembaga pendidikan Al-Qur'an agar terus melahirkan anak-anak yang saleh dan salehah.

Di balik setiap langkah kecil para santri menuju ruang perlombaan, tersimpan cita-cita besar yang sedang dirawat. Mungkin hari ini mereka hanya membawa map, mushaf, dan nomor peserta. Namun kelak, dari tangan-tangan mungil itulah akan lahir para pemimpin, ulama, pendidik, dan pribadi-pribadi yang menebarkan cahaya Islam di tengah kehidupan masyarakat.

Semoga ikhtiar yang dilakukan Ustadzah Dwi Astuti bersama keluarga besar TPQ Miftahul Huda Desa Adisara menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa putus. Sebab sejatinya, setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca seorang anak, setiap doa yang mereka lantunkan, dan setiap akhlak mulia yang tumbuh dalam dirinya adalah buah dari ketulusan para guru yang memilih mengabdi tanpa banyak meminta balasan.

Di tengah zaman yang terus berubah, masih ada insan-insan yang dengan sabar menjaga cahaya Al-Qur'an tetap menyala di hati generasi penerus. Dan dari tangan-tangan tulus seperti Ustadzah Dwi Astuti, harapan itu terus hidup—bahwa Indonesia akan selalu memiliki anak-anak saleh yang kelak menjadi penyejuk bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.