Akad Nikah Berlangsung Khusyuk Dibawah Bimbingan Penghulu

Oleh KUA Lumbir
SHARE

Banyumas — Pernikahan merupakan ikatan suci yang menyatukan dua insan dalam satu janji agung untuk hidup bersama dalam ridha Allah SWT. Ia bukan sekadar perayaan cinta, melainkan awal dari perjalanan panjang yang dipenuhi pelajaran tentang tanggung jawab, keteguhan hati, pengorbanan, serta komitmen untuk saling menjaga dan saling menguatkan. Dalam rumah tangga, dua pribadi yang berbeda belajar untuk menyatukan langkah, memahami kekurangan masing-masing, dan menapaki dinamika kehidupan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Cinta yang sejati bukan hanya hadir di hari bahagia, tetapi tumbuh setiap hari dalam bentuk perhatian kecil, doa yang terucap lirih, serta usaha bersama untuk mempertahankan keharmonisan. Kamis (11/12)

Semangat inilah yang terus dijaga oleh KUA Lumbir melalui pelayanan pencatatan nikah yang mengutamakan profesionalitas, keramahan, dan kepatuhan pada prinsip syar’i. Dengan mengedepankan nilai amanah dan tanggung jawab, KUA Lumbir berupaya menghadirkan prosesi pernikahan yang tidak hanya sah secara negara tetapi juga memberikan ketenteraman bagi pasangan yang sedang menapaki babak baru kehidupan. Pada Kamis pagi pukul 08.00 WIB, sebuah prosesi akad nikah kembali digelar dengan penuh kekhidmatan dan suasana yang sarat keberkahan.

Udara sejuk pedesaan Lumbir pada pagi hari menambah nuansa syahdu di Balai Nikah KUA Lumbir, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas. Tempat yang sederhana namun penuh nilai spiritual itu menjadi saksi bisu bersatunya dua hati dalam perjanjian suci. Prosesi akad dipimpin langsung oleh Kepala KUA Lumbir, Tohiron, yang dikenal ramah dan tegas dalam menjalankan tugas. Beliau didampingi CPNS Penghulu, Muhammad ‘Abdul Khamid Addin’s, serta staf pelaksana Akrom Anas. Kehadiran mereka merupakan wujud komitmen KUA untuk memastikan seluruh rangkaian berjalan tertib, sesuai syariat Islam, dan memenuhi aspek legalitas negara.

Pada hari itu, Heru Prastiko (23), pemuda asal Desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, dengan penuh keyakinan mempersunting Diah Septiani (22), putri dari keluarga setempat. Dengan suara yang mantap, Heru mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu, saksi, dan para tamu yang hadir. Kalimat itu terucap sekali, jelas, dan langsung dinyatakan sah oleh penghulu. Suasana haru seketika menyelimuti ruangan ketika takbir dan doa lirih dari para hadirin mengiringi momen bahagia tersebut. Marsono, ayah kandung mempelai perempuan, bertindak langsung sebagai wali nikah, sementara mahar berupa uang tunai sebesar Rp 300.000,- diberikan sebagai simbol ketulusan dan kesiapan mempelai pria dalam memikul tanggung jawab sebagai suami.

Usai dinyatakan sah, Kepala KUA menyampaikan tausiyah pernikahan yang lembut namun mengena di hati. Beliau mengingatkan bahwa salat lima waktu merupakan tiang utama yang mampu menjaga ketenteraman rumah tangga. Komunikasi yang jujur dan baik juga menjadi kunci agar perbedaan tidak menimbulkan masalah besar. Saling menghormati dalam setiap keadaan, bersabar satu sama lain, serta mempraktikkan mu’asyarah bil ma’ruf menjadi fondasi yang harus dijaga sepanjang perjalanan pernikahan. Ia juga berharap agar pasangan ini menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, serta diberi keturunan yang berbakti kepada orang tua dan agama.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan buku nikah oleh kedua mempelai, wali, saksi, serta penghulu, sebagai bentuk legalitas dan penegasan bahwa pernikahan telah tercatat secara resmi. Doa bersama dipanjatkan untuk memohon keberkahan, perlindungan, dan kelanggengan bagi pasangan yang baru membangun bahtera rumah tangga ini.

KUA Lumbir selama ini dikenal aktif dan konsisten dalam memberikan pelayanan terbaik, tidak hanya sebatas administrasi, tetapi juga memberikan edukasi dan pendampingan nilai-nilai keagamaan bagi pasangan calon pengantin. Setiap prosesi pernikahan diharapkan tidak hanya menjadi momen seremonial, tetapi juga awal dari tekad kuat untuk membangun keluarga yang harmonis, berakhlak, dan berlandaskan nilai-nilai syariah.

Pernikahan memang bukan sekadar pesta atau hari bahagia yang dirayakan keluarga dan kerabat. Ia adalah pintu menuju perjalanan panjang yang penuh suka dan duka. Dalam setiap langkah, akan ada ujian yang menjadi penguat cinta. Ada pula kebahagiaan yang menjadi penghapus lelah setelah menjalani perjuangan bersama. Selama pasangan saling memahami, saling menjaga, serta memegang teguh komitmen pada ajaran agama, maka kebahagiaan bukan hanya menjadi impian, tetapi dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga rumah tangga yang baru dibangun ini senantiasa diliputi kedamaian, keberkahan, dan kebahagiaan, serta mampu menjadi keluarga yang membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar. Dengan izin Allah, semoga langkah mereka selalu dalam lindungan dan bimbingan-Nya.