HUT RI #81

Bimwin Penyuluh KUA Jatilawang : Ketika Terjadi Perselisihan, Fokus Pada Persoalan yang Dihadapi, Bukan Cari Kesalahan Atau Permalukan Pasangan

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
15 Okt 2026
7x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 15-10-2026 12:11
SHARE

Jatilawang — Rumah tangga yang harmonis bukanlah tempat untuk membuktikan siapa yang paling benar, melainkan ruang bagi dua hati untuk saling memahami. Pesan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Zainuddin Surur dan Aghwa Nurul Aeni. Kamis (15/10)

Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah mengingatkan bahwa kebiasaan ingin selalu menang, enggan meminta maaf, memaksakan kehendak, dan menganggap pendapat sendiri paling benar dapat menjadi sumber konflik dalam kehidupan rumah tangga.

Menurutnya, persoalan sederhana bisa berubah menjadi pertengkaran panjang ketika suami dan istri lebih sibuk mempertahankan ego daripada mencari jalan keluar. Akibatnya, salah satu pasangan mungkin memilih diam, bukan karena masalah telah selesai, melainkan karena lelah merasa tidak didengarkan.

“Dalam rumah tangga, tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan kemenangan salah satu pihak. Ada kalanya, mengalah untuk mendengarkan dan meminta maaf dengan tulus justru menjadi kemenangan terbesar bagi hubungan suami istri,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi bimbingan tersebut.

Muhammad Taubah mengajak Zainuddin Surur dan Aghwa Nurul Aeni membangun kebiasaan berdialog dengan tenang, memberi kesempatan kepada pasangan untuk menyampaikan perasaan, serta menghindari kata-kata yang merendahkan. Ketika terjadi perselisihan, keduanya perlu berfokus pada persoalan yang dihadapi, bukan mencari kesalahan atau mempermalukan satu sama lain.

Ia juga menekankan bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan, sebagaimana mendengarkan pasangan bukan berarti kehilangan harga diri. Justru, keberanian mengakui kesalahan menunjukkan kedewasaan dan kesediaan menjaga hubungan yang telah dibangun bersama.

Pesan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 134, yang memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Nilai tersebut penting diterapkan dalam kehidupan keluarga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Melalui Bimbingan Perkawinan ini, Muhammad Taubah berharap kedua calon pengantin mampu membangun rumah tangga yang menjunjung tinggi komunikasi, saling menghargai, dan kesediaan mencari solusi bersama. Sebab, pernikahan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling berkuasa, melainkan perjalanan untuk saling menguatkan.

Jangan sampai keinginan untuk selalu menang membuat pasangan kehilangan keberanian untuk berbicara. Sebab, ketika seseorang terus-menerus merasa tidak didengarkan, yang perlahan menjauh bukan hanya pendapatnya, melainkan juga kedekatan hatinya.

Pada akhirnya, kemenangan sejati dalam rumah tangga bukanlah ketika pasangan terdiam karena kalah berdebat, melainkan ketika keduanya mampu menyelesaikan persoalan tanpa kehilangan rasa hormat dan kasih sayang. Karena cinta tidak membutuhkan seorang pemenang dan seorang pecundang, tetapi dua insan yang bersedia memperbaiki diri demi tetap berjalan bersama.