HUT RI #81

Setelah Bimwin, Teguhkanlah Agar Cinta Jangan Kalah oleh Uang

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
15 Okt 2026
9x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 15-10-2026 11:59
SHARE

Jatilawang – Tidak semua pertengkaran dalam rumah tangga bermula dari hilangnya cinta. Ada yang berawal dari uang belanja yang tak mencukupi, cicilan utang yang terus menumpuk, kebiasaan membeli sesuatu tanpa pertimbangan, hingga penghasilan yang penggunaannya disembunyikan dari pasangan. Persoalan yang tampak sederhana itu, jika dibiarkan, dapat perlahan mengikis kepercayaan dan mengubah rumah yang semula penuh kehangatan menjadi ruang yang dipenuhi kecemasan. Pesan tersebut menjadi salah satu pokok Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, kepada calon pengantin, Zainal dan Nadia. Keduanya diajak memahami pentingnya keterbukaan, tanggung jawab, dan kerja sama dalam mengelola keuangan keluarga. Kamis (15/10)

Dalam kehidupan rumah tangga, penghasilan yang terbatas bukan selalu menjadi sumber utama masalah. Kesulitan justru dapat semakin besar ketika pasangan tidak saling terbuka, tidak memiliki perencanaan keuangan, atau merasa bahwa seluruh beban keluarga hanya dipikul oleh salah satu pihak.

Ada suami yang diam-diam menyimpan kecemasan karena penghasilannya tak mampu memenuhi semua kebutuhan. Ada istri yang berulang kali menghitung uang belanja, berusaha mencukupkan kebutuhan dapur, biaya pendidikan anak, dan tagihan bulanan yang datang silih berganti. Ada pula pasangan yang terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain, tetapi diam-diam menyimpan ketakutan setiap kali tanggal pembayaran utang semakin dekat.

Di tengah keadaan itu, kalimat sederhana seperti “Uang kita tinggal berapa?” dapat berubah menjadi pertengkaran apabila disampaikan dengan kemarahan. Sebaliknya, percakapan yang jujur dan penuh pengertian dapat menjadi awal untuk menemukan jalan keluar bersama.

Persoalan keuangan bukan hanya tentang berapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga bagaimana dua orang belajar memikul tanggung jawab bersama.

Muhammad Taubah menekankan pentingnya membangun kebiasaan berdiskusi mengenai penghasilan, kebutuhan pokok, tabungan, utang, dan pengeluaran pribadi. Pasangan perlu mengetahui kondisi keuangan keluarga secara jujur, termasuk ketika pendapatan sedang menurun atau ada kewajiban pembayaran yang belum terselesaikan.

Keterbukaan bukan berarti menghilangkan seluruh ruang pribadi, melainkan memastikan bahwa keputusan yang berdampak pada kehidupan bersama tidak dilakukan secara diam-diam. Menyembunyikan utang atau penggunaan uang yang signifikan dapat melukai kepercayaan, sedangkan membicarakan kesulitan sejak awal memberi kesempatan bagi pasangan untuk mencari solusi sebelum masalah semakin besar.

Zainal dan Nadia juga diajak memahami bahwa mengatur keuangan keluarga tidak harus dimulai dari penghasilan yang besar. Langkah sederhana dapat dilakukan dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran, mendahulukan kebutuhan daripada keinginan, menghindari utang konsumtif yang tidak terukur, serta menyepakati batas pengeluaran yang perlu dibicarakan bersama.

Apabila penghasilan terbatas, pasangan perlu menyusun prioritas secara realistis. Kebutuhan pangan, tempat tinggal, kesehatan, dan kewajiban penting lainnya harus diperhitungkan dengan cermat. Jika utang sudah sulit dikendalikan, keduanya perlu terbuka mengenai jumlah kewajiban, menyusun rencana pembayaran yang masuk akal, dan mencari bantuan yang tepercaya bila diperlukan.

Yang tak kalah penting, jangan menjadikan uang sebagai alat untuk menguasai atau merendahkan pasangan. Pihak yang memperoleh penghasilan lebih besar tidak berhak merasa paling berjasa, sementara pihak yang mengurus rumah tangga atau berpenghasilan lebih kecil tidak boleh dianggap tidak berkontribusi. Setiap keluarga perlu membicarakan pembagian tanggung jawab secara adil sesuai kemampuan dan kesepakatan bersama.

Bagi Zainal dan Nadia, kehidupan setelah pernikahan kelak bukanlah perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling banyak menghasilkan uang. Pernikahan adalah perjalanan panjang untuk belajar mencukupkan kebutuhan, menata harapan, dan menghadapi kesulitan tanpa saling meninggalkan.

Mungkin suatu hari penghasilan mereka tidak sebanyak yang diharapkan. Mungkin ada kebutuhan mendadak yang menguras tabungan. Mungkin rencana yang telah disusun harus ditunda karena keadaan. Namun, selama keduanya mau duduk bersama, saling menjelaskan, dan mencari jalan keluar tanpa saling merendahkan, kesulitan akan lebih mudah dihadapi.

Sebab, yang membuat keluarga bertahan bukan semata-mata tebalnya dompet, melainkan kesediaan untuk saling menggenggam ketika keadaan sedang sulit.

Bayangkan betapa beratnya seseorang pulang ke rumah dengan pikiran penuh tagihan, lalu mendapati dirinya disalahkan tanpa diberi kesempatan menjelaskan. Bayangkan pula seseorang yang berusaha menghemat setiap rupiah, tetapi merasa perjuangannya tak pernah dihargai. Luka semacam itu tidak selalu terlihat, tetapi dapat tumbuh diam-diam di antara dua orang yang dahulu berjanji untuk saling membahagiakan.

Karena itu, jangan biarkan persoalan uang membuat pasangan merasa berjuang sendirian. Ketika rezeki lapang, bersyukurlah bersama. Ketika penghasilan menyempit, berhematlah bersama. Ketika muncul masalah, bicarakanlah bersama. Dan ketika salah satu melakukan kekeliruan, carilah perbaikan tanpa menjadikan kesalahan sebagai senjata untuk melukai.

Sebab, rumah tangga tidak harus selalu kaya untuk bahagia. Namun, rumah tangga membutuhkan kejujuran agar kepercayaan tetap terjaga, kebijaksanaan agar pengeluaran tidak menjadi bencana, dan kasih sayang agar perjuangan mencari nafkah tidak terasa sia-sia.

Pada akhirnya, uang dapat habis, barang dapat rusak, dan keadaan ekonomi dapat berubah. Namun, bila kejujuran dan kepedulian tetap dirawat, pasangan masih memiliki sesuatu yang sangat berharga untuk diperjuangkan: keyakinan bahwa dalam menghadapi kehidupan, mereka tidak sedang berjalan sendirian.

Jangan sampai uang yang seharusnya menjadi alat untuk menghidupi keluarga justru merenggut kedamaian di dalamnya. Sebab, sebesar apa pun penghasilan seseorang, tak akan pernah cukup untuk membeli kembali hati yang terluka karena terlalu lama merasa tidak dihargai.