Penyuluh KUA Wangon Dituntut Ciptakan Suasana Menyenangkan dalam Bimbingan dan Penyuluhan
Wangon — Penyuluh Agama Islam KUA Wangon terus berupaya meningkatkan kualitas Bimbingan dan Penyuluhan (Bimluh) kepada masyarakat melalui penyampaian materi yang menarik, komunikatif, dan menyenangkan. Suasana yang nyaman diharapkan mampu membuat jamaah Majelis Taklim (MT) lebih antusias mengikuti kegiatan, memahami materi yang disampaikan, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kamis (15/10)
Dalam pelaksanaan Bimluh, penyuluh tidak hanya dituntut menguasai materi keagamaan, tetapi juga harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan jamaah. Penggunaan bahasa yang mudah dipahami, penyampaian contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, serta sesekali diselingi humor yang santun dapat menjadikan kegiatan lebih hidup dan tidak membosankan. Dengan demikian, pesan keagamaan dapat diterima secara lebih efektif.
Zainur, Penyuluh Agama Islam KUA Wangon, menyampaikan bahwa suasana yang menyenangkan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam kegiatan penyuluhan. “Seorang penyuluh harus mampu menciptakan suasana yang akrab, santai, tetapi tetap berisi. Jangan sampai jamaah merasa tegang atau bosan. Materi harus disampaikan dengan bahasa sederhana, disertai contoh nyata agar mudah dipahami dan diamalkan,” ungkapnya.
Salah seorang jamaah MT menyambut baik penyampaian materi Bimluh yang dilakukan secara komunikatif dan penuh keakraban. Menurutnya, suasana yang menyenangkan membuat jamaah lebih bersemangat untuk mengikuti kegiatan hingga selesai. “Kalau penyampaiannya menarik, santai, dan disertai contoh dalam kehidupan sehari-hari, kami lebih mudah memahami materi. Kami juga merasa nyaman untuk bertanya dan berbagi pengalaman,” tuturnya.
Melalui pendekatan yang humanis dan menyenangkan, Penyuluh Agama Islam KUA Wangon diharapkan semakin mampu menghadirkan kegiatan Bimluh yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat. Keberhasilan penyuluhan tidak hanya diukur dari tersampaikannya materi, tetapi juga dari sejauh mana jamaah memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan. Dengan demikian, kegiatan Bimluh dapat menjadi sarana memperkuat keimanan, meningkatkan pengetahuan keagamaan, serta membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.(srf)
