Cinta yang Tak Mengenal Senja
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Ada cinta yang tumbuh di masa muda, tetapi ada pula cinta yang justru menemukan keindahannya ketika rambut telah memutih dan langkah tak lagi sekuat dahulu. Di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, sebuah peristiwa sakral menyuguhkan kisah sederhana namun penuh makna. Iskandar Zulkarnain, Penghulu KUA Jatilawang, melaksanakan Pencatatan Nikah dan Ijab Qabul pasangan pengantin lansia, Katiman dan Suharti. Selasa (04/08)
Di usia ketika banyak orang mulai menghitung kenangan daripada merancang masa depan, Katiman dan Suharti justru memilih menata kembali sebuah perjalanan bersama. Akad yang mereka ikrarkan bukan sekadar rangkaian kalimat yang mengesahkan sebuah pernikahan, melainkan sebuah keberanian untuk mengatakan bahwa manusia tetap membutuhkan teman untuk berbagi hari, bahkan ketika usia telah mengajarkan begitu banyak tentang kehilangan dan perpisahan.
Suasana haru terasa dalam prosesi tersebut. Tidak ada kemewahan yang menjadi ukuran, tidak pula usia menjadi penghalang. Yang hadir adalah kesungguhan dua insan yang ingin menjalani sisa perjalanan kehidupan dengan ikatan yang lebih kuat, lebih tertata, dan penuh keberkahan.
Ketika ijab dan kabul terucap, seakan waktu berhenti sejenak. Rambut yang telah memutih menjadi saksi bahwa kehidupan telah membawa keduanya melewati begitu banyak musim. Keriput di wajah bukan sekadar tanda usia, tetapi jejak perjalanan panjang—tentang suka dan duka, tentang kehilangan dan harapan, tentang jatuh lalu bangkit kembali.
Bagi Iskandar Zulkarnain, pelaksanaan pencatatan nikah dan ijab qabul bagi pasangan lansia tersebut menjadi pengalaman yang sarat nilai kemanusiaan. Tugas penghulu bukan hanya menyaksikan sahnya sebuah akad dan memastikan pencatatan pernikahan berjalan sesuai ketentuan, tetapi juga menjadi bagian dari momen penting ketika seseorang memilih untuk menata kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Kisah Katiman dan Suharti menghadirkan pesan yang sederhana tetapi dalam: cinta tidak memiliki batas usia. Ia tidak selalu hadir dalam gemuruh masa muda. Kadang cinta datang dengan langkah yang perlahan, dengan tangan yang mulai bergetar, dengan suara yang tak lagi sekuat dahulu, tetapi justru memiliki ketulusan yang telah ditempa oleh panjangnya perjalanan hidup.
Pernikahan di usia senja juga mengajarkan bahwa manusia tidak pernah terlalu tua untuk memulai kebaikan. Tidak pernah terlambat untuk memperbaiki jalan. Tidak pernah terlalu jauh untuk kembali menata kehidupan dengan ikatan yang halal dan penuh tanggung jawab.
Bagi keluarga yang menyaksikan, momen tersebut mungkin menyimpan haru yang sulit dijelaskan. Sebab melihat dua orang yang telah melewati perjalanan panjang kemudian kembali mengucapkan janji untuk saling menemani adalah seperti melihat matahari sore: cahayanya tidak lagi seterik pagi, tetapi justru terasa lebih lembut, hangat, dan menenangkan.
Pada usia muda, cinta mungkin berbicara tentang masa depan. Tetapi pada usia senja, cinta berbicara tentang kesediaan menemani—hingga langkah terakhir berhenti dan perjalanan dunia berakhir.
Ada keindahan yang tidak bisa dibeli dengan usia muda. Ada ketulusan yang hanya dapat lahir setelah seseorang berkali-kali mengenal arti kehilangan. Dan mungkin itulah keindahan yang terpancar dari akad Katiman dan Suharti: mereka tidak sedang mengejar kehidupan yang panjang, tetapi sedang berharap agar sisa kehidupan yang diberikan Allah dapat dijalani bersama dalam ketenangan.
Pencatatan nikah yang dilakukan KUA Jatilawang menjadi wujud hadirnya pelayanan negara dalam setiap fase kehidupan masyarakat. Dari pasangan muda yang baru mengenal dunia rumah tangga hingga pasangan lansia yang memilih menata kembali kehidupan, setiap akad memiliki kisah, perjuangan, dan harapan yang layak dihormati.
Semoga pernikahan Katiman dan Suharti menjadi rumah yang teduh di penghujung perjalanan. Semoga keduanya saling menjadi penguat ketika tubuh mulai lelah, saling menjadi penghibur ketika kenangan masa lalu datang menyapa, dan saling menggenggam ketika usia perlahan membawa mereka menuju batas yang tak seorang pun dapat menghindarinya.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak pernah benar-benar membutuhkan seseorang yang sempurna. Yang dicari adalah seseorang yang bersedia tetap tinggal ketika usia mulai menghapus banyak hal dari diri kita.
Dan barangkali, itulah makna cinta yang paling sunyi sekaligus paling indah: bukan tentang siapa yang datang ketika kita masih muda dan kuat, tetapi tentang siapa yang masih bersedia menggenggam tangan kita ketika rambut telah memutih dan langkah mulai melambat.
Selamat menempuh kehidupan baru, Katiman dan Suharti. Semoga akad yang terucap di usia senja menjadi jalan menuju ketenteraman, keberkahan, dan kasih sayang Allah SWT. Semoga setiap sisa langkah yang ditempuh bersama menjadi ibadah, dan semoga kelak keduanya dipertemukan kembali dalam kehidupan yang jauh lebih abadi—di tempat di mana tidak ada lagi usia, tidak ada lagi sakit, dan tidak ada lagi perpisahan.
