HUT RI #81

Estafet Sarung Bikin Semarak Kemerdekaan MTs Negeri 3 Banyumas Makin Seru

Oleh MTSN3 Banyumas
SHARE

Banyumas — Semangat perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di MTs Negeri 3 Banyumas belum juga surut. Setelah sebelumnya dibuat tegang sekaligus terhibur melalui lomba sambung lagu nasional, kemeriahan berlanjut dengan lomba estafet sarung yang tak kalah seru. Kali ini, bukan hafalan lirik yang diuji, melainkan kekompakan, kecepatan, konsentrasi, dan strategi setiap tim. Rabu (19/08)

Dengan mengenakan pakaian olahraga, para murid dari kelas VII, VIII, dan IX bersiap di arena perlombaan. Setiap tim terdiri atas 10 orang yang berjajar rapi. Dalam satu putaran, tim dari masing-masing angkatan maju bersama dan berlomba memindahkan sarung dari peserta pertama hingga peserta ke-10, kemudian kembali lagi hingga sarung tersebut sampai kembali kepada peserta pertama. Perlombaan dilaksanakan sebanyak tiga kali, dan dari setiap angkatan langsung ditentukan tiga tim tercepat sebagai juara.

Aturannya terdengar sederhana, tetapi ketika perlombaan dimulai, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Sarung harus dipindahkan dari kepala ke kepala tanpa menggunakan tangan. Peserta harus bekerja sama menggerakkan tubuh dengan tepat agar sarung dapat melewati setiap anggota tim. Sedikit saja salah posisi, sarung bisa melebar, tersangkut, bahkan melingkar di badan sehingga membuat peserta berikutnya kesulitan memindahkannya.

Begitu aba-aba dimulai, suasana langsung berubah. Para peserta yang sejak awal berdiri tenang dan rapi mendadak bergerak cepat. Teriakan dukungan dari teman-teman sekelas terdengar bersahutan. Ada yang berhasil melewatkan sarung dengan mulus, tetapi ada pula yang harus berjibaku ketika sarung tiba-tiba melebar dan sulit melewati kepala. Kepanikan kecil pun muncul, disusul gelak tawa penonton ketika seorang peserta berusaha membebaskan sarung yang justru terlilit di badannya.

Di situlah kekompakan benar-benar diuji. Tidak cukup hanya cepat, setiap anggota harus mampu membaca gerakan teman di depannya. Jika satu orang terlambat bergerak, seluruh tim bisa kehilangan waktu. Sebaliknya, ketika semua bergerak kompak, sarung dapat berpindah dengan cepat dari satu kepala ke kepala berikutnya.

Perlombaan kali ini dinilai oleh Bapak Akhmad Khoerul Patihin, S.Ag. Sementara pelaksanaan di lapangan dibantu oleh tim OSIM, Bapak Dimas Nofrizal, S.Pd., dan Bapak Musthofa, S.Pd.I. Kolaborasi panitia dan petugas membuat lomba berlangsung tertib, sportif, sekaligus tetap penuh keceriaan.

Menariknya, meskipun suasana perlombaan begitu ramai, para murid tetap menunjukkan antusiasme dan ketenangan sebelum aba-aba dimulai. Mereka memperhatikan posisi masing-masing, memastikan sarung siap digunakan, dan berkonsentrasi menunggu kesempatan. Namun, begitu perlombaan dimulai, ketenangan itu seketika berubah menjadi gerakan cepat dan penuh strategi.

Salah seorang murid kelas IX mengaku lomba tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan. “Awalnya kami pikir estafet sarung itu gampang. Ternyata begitu lomba dimulai, sarungnya malah susah dipindahkan dan sempat melilit di badan. Panik pasti, tetapi justru di situ serunya. Kami harus kompak dan tidak boleh saling menyalahkan. Yang penting terus berusaha sampai sarung kembali ke orang pertama,” tuturnya sambil tertawa.

Bagi murid kelas IX, lomba ini bukan hanya tentang menjadi yang tercepat. Ada pelajaran sederhana yang mereka rasakan secara langsung: ketika semua anggota tim mau bergerak bersama, saling memahami, dan tetap tenang menghadapi kesulitan, tantangan yang tampak sederhana sekalipun dapat diselesaikan.

Dari sambung lagu nasional hingga estafet sarung, perayaan kemerdekaan di MTs Negeri 3 Banyumas hari ini benar-benar menjadi panggung kegembiraan. Murid kelas VII, VIII, dan IX tidak hanya berlomba mengejar kemenangan, tetapi juga menikmati kebersamaan, belajar sportivitas, dan menciptakan kenangan yang kelak akan menjadi cerita manis selama mereka menjadi bagian dari keluarga besar madrasah.

Hari ini sarung boleh tersangkut, langkah boleh salah, bahkan sempat panik. Tetapi semangat untuk tertawa, berjuang, dan menang bersama tidak boleh berhenti. Itulah kemerdekaan yang dirayakan dengan cara sederhana: penuh keceriaan, kekompakan, dan kebersamaan.(HumasMTsN3).