Filosofi Hasil 10: Kakan Kemenag Banyumas Dorong Inovasi SKP dan PAK bagi ASN RA-MI Cilongok
Oleh HUMAS
Purwokerto – Ratusan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Raudhatul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kecamatan Cilongok mengikuti Workshop Penyusunan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) dan Penilaian Angka Kredit (PAK) di Purwokerto. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam transformasi pola pikir birokrasi di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Kamis (07/05)
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin, hadir memberikan arahan fundamental mengenai filosofi pengambilan keputusan dan kinerja yang harus dimiliki oleh setiap Aparatur Sipil Negara (ASN).
Dalam arahannya, Ibnu Asaddudin menekankan sebuah analogi matematis yang mendalam untuk menghadapi tantangan birokrasi masa kini. Beliau menekankan bahwa pengambilan keputusan tidak boleh kaku atau hanya terpaku pada satu metode konvensional yang monoton.
"Birokrasi bukan lagi soal '1 + 1 = 2'. Pendekatan yang terlalu tekstual seringkali menghambat inovasi dan solusi cepat di lapangan. Kita harus berpikir, jika hasilnya harus 10, maka itu berapa ditambah berapa?" tegasnya.
Melalui filosofi ini, beliau menjelaskan bahwa fokus utama ASN harus berada pada Outcome (Hasil Akhir). Untuk mencapai angka "10", jalannya bisa beragam; bisa melalui 5+5, 7+3, atau bahkan 12-2. Artinya, dalam penyusunan SKP dan PAK, ASN dituntut untuk lebih kreatif dan solutif. Selama tujuan akhir tercapai sesuai regulasi dan SOP, strategi yang digunakan dapat disesuaikan dengan dinamika di madrasah masing-masing.
Relevansi filosofi tersebut dalam workshop ini diterjemahkan ke dalam tiga aspek utama:
-
SKP yang Dinamis: ASN diharapkan tidak hanya menggugurkan kewajiban administratif, melainkan menyusun SKP yang mencerminkan strategi nyata peningkatan kualitas pendidikan.
-
PAK sebagai Cerminan Kinerja: Penilaian Angka Kredit harus menjadi alat ukur kontribusi nyata di lapangan, bukan sekadar tumpukan berkas administratif.
-
Kepemimpinan Solutif: Kepala Madrasah didorong memberikan ruang inovasi dalam metode pengajaran, asalkan target kurikulum dan kualitas output siswa tetap terpenuhi.
Menutup arahannya, Ibnu Asaddudin berharap para PNS di Kecamatan Cilongok mampu menerapkan prinsip fleksibilitas ini dalam melayani masyarakat. Keputusan yang baik adalah keputusan yang mampu melihat berbagai celah peluang untuk mencapai target organisasi.
Dengan adanya workshop ini, diharapkan para guru dan tenaga kependidikan di bawah naungan Kemenag Banyumas dapat bekerja lebih profesional, solutif, dan berdampak nyata bagi kemajuan pendidikan agama di wilayah Cilongok.
