Gagal Apel, Penyuluh Lintas Kecamatan Justru Dapat Vitamin Pembinaan dari Kasi Bimas Islam

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto – Ada pemandangan berbeda di Masjid Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyumas pagi ini. Sedianya, para Penyuluh Agama Islam dari berbagai kecamatan hadir untuk mengikuti apel pagi rutin pekan pertama setiap bulan. Namun, karena adanya penundaan jadwal apel, momentum tersebut justru dimanfaatkan untuk sesi pembinaan intensif yang dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Agus Setiawan. Senin (02/02/26)

Peserta yang hadir merupakan para Penyuluh Agama Islam dari wilayah Somagede, Sumpiuh, Kemranjen, Banyumas, dan Sokaraja. Meski agenda utama bergeser, suasana pembinaan di serambi masjid berlangsung khidmat dan penuh antusiasme.

Dalam arahannya, Agus Setiawan menekankan pentingnya peran penyuluh sebagai "ujung tombak" yang harus mampu masuk ke semua lini kehidupan masyarakat. Beliau mendorong para penyuluh untuk terus melahirkan inovasi agar pesan-pesan keagamaan dan program pemerintah dapat diterima dengan baik oleh berbagai lapisan warga.

"Penyuluh harus punya inovasi. Kita dituntut fleksibel agar kehadiran kita benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas," ujar Agus.

Kabar baik juga disampaikan terkait penguatan peran penyuluh di tingkat kabupaten. Dalam waktu dekat, Kemenag Banyumas direncanakan akan melakukan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Bupati Banyumas.

Sinergi ini bertujuan agar Penyuluh Agama memiliki akses khusus untuk masuk ke jaringan PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Fokus utamanya adalah melakukan edukasi masif sebagai upaya pencegahan pernikahan dini yang masih menjadi tantangan di wilayah Banyumas.

Lebih lanjut, Kasi Bimas mengingatkan bahwa KUA adalah "miniatur" dari Kementerian Agama di tingkat kecamatan. Sebagai bagian dari KUA, penyuluh memiliki tanggung jawab moral untuk mengoptimalkan pelayanan.

Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah keterlibatan aktif penyuluh dalam program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri. Hal ini diharapkan dapat membekali calon pengantin dengan pondasi keluarga yang kokoh sebelum memasuki bahtera rumah tangga.

Kegiatan pembinaan yang berlangsung secara mendadak namun efektif ini diakhiri dengan sesi diskusi ringan antar penyuluh lintas kecamatan, memperkuat silaturahmi sekaligus koordinasi program kerja di wilayah masing-masing. (Nur¥)