Gema Shalawat Milenial: Sentuhan Seni Penyuluh Hidupkan Semangat Jamaah Muslimat di Kedungwringin
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Suasana malam di Desa Kedungwringin kini tak lagi sepi. Lantunan salawat yang diiringi tabuhan hadroh nan ritmis mulai menjadi pemandangan rutin yang menyejukkan telinga. Adalah Rais Rudiansyah, seorang Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, yang menginisiasi gerakan dakwah kreatif melalui kajian rutin di Majelis Taklim Muslimat NU Kedungwringin. Minggu (08/02/26)
Kegiatan yang berpusat pada syiar Islam melalui seni musik religi ini dilaksanakan secara konsisten dua kali dalam sepekan, yakni setiap malam Ahad dan malam Rabu. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memperdalam pemahaman agama warga setempat dengan cara yang lebih segar dan tidak kaku.
Menariknya, sasaran utama dari kajian ini adalah kelompok ibu-ibu muda di Desa Kedungwringin. Rais Rudiansyah memahami bahwa pendekatan dakwah bagi generasi muda memerlukan sentuhan seni agar pesan-pesan spiritual dapat diterima dengan lebih baik. Dengan melibatkan alat musik hadroh, suasana kajian berubah menjadi lebih hidup dan penuh energi positif.
Antusiasme para jamaah pun tergolong luar biasa. Sejak dimulai, jumlah peserta terus meningkat karena mereka merasa metode ini sangat "asyik" dan memiliki nilai estetika yang tinggi. Bagi para ibu muda ini, bersalawat bukan sekadar ibadah, melainkan juga sarana untuk mengekspresikan jiwa seni yang mereka miliki dalam balutan nuansa Islami.
"Kami merasa lebih bersemangat karena kajiannya tidak membosankan. Ada unsur seninya, jadi selain dapat pahala dan ilmu, hati juga merasa tenang karena alunan musiknya," ujar salah satu jemaah yang rutin hadir. Pendekatan persuasif yang dilakukan Rais Rudiansyah ini dinilai berhasil mematahkan stigma bahwa kajian agama selalu identik dengan suasana yang terlalu formal dan berat.
Melalui sinergi antara KUA Jatilawang dan Muslimat NU Kedungwringin, diharapkan kegiatan ini dapat terus istikamah dan menjadi percontohan bagi desa-desa lain. Selain mempertebal keimanan, rutinitas ini terbukti mampu membangun kerukunan antarwarga melalui jalur seni budaya yang religius.
