HUT RI #81

Guru Madrasah Berdiri di Garis Depan, Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Kembaran Berlangsung Khidmat

Oleh MIN3 Banyumas
SHARE

Banyumas — Halaman Kantor Kecamatan Kembaran berubah menjadi ruang refleksi kebangsaan. Suara komando, pembacaan ikrar, dan rangkaian upacara mengiringi peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tingkat Kecamatan Kembaran. Kamis (01/10)

Di antara barisan peserta upacara, sejumlah guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) mendapat kepercayaan untuk mengambil peran sebagai petugas. Mereka bukan sekadar hadir sebagai peserta, tetapi berdiri di garis depan untuk memastikan setiap rangkaian upacara berlangsung tertib, khidmat, dan penuh makna.

Wahyu Hadi Leksono, dipercaya sebagai Komandan Upacara. Dengan sikap tegas dan penuh tanggung jawab, ia memimpin jalannya upacara serta mengatur barisan peserta dalam setiap tahapan prosesi.

Sementara itu, Mei Fitriani, mendapat amanah sebagai Pembaca Ikrar. Pembacaan ikrar menjadi salah satu bagian penting yang menguatkan suasana reflektif dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Siti Mukhlisoh, bertugas sebagai Pembaca Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, membacakan dasar konstitusional bangsa dengan penuh penghayatan.

Sementara itu, Agustiana Zahroh, sebagai Pembawa Acara, mampu membangun suasana upacara dengan pembawaan yang komunikatif, tegas, dan penuh percaya diri. Suaranya yang jelas dalam memandu setiap tahapan membuat peserta upacara dapat mengikuti prosesi dengan tertib.

“Pembawa acara bukan sekadar menyebutkan susunan acara. Ia menjadi suara yang menghubungkan setiap tahapan upacara sehingga suasana tetap hidup, tertib, dan khidmat.”

Tugas lainnya dipercayakan kepada Sumali, sebagai Pembaca Doa. Doa yang dipanjatkan menghadirkan suasana hening dan penuh penghayatan, sekaligus menjadi penutup rangkaian upacara dalam suasana religius.

Adapun Ari Purwoko, bertugas sebagai Ajudan, sedangkan Akhmad Budi Santoso dipercaya sebagai Perwira Upacara. Keduanya turut memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan tata upacara yang telah dipersiapkan.

Adapun Camat Kembaran bertindak sebagai Inspektur Upacara.

Keterlibatan para guru madrasah dalam upacara tersebut menghadirkan makna tersendiri. Selama ini, guru dikenal sebagai sosok yang berdiri di depan kelas, membimbing murid membaca, berhitung, memahami ilmu pengetahuan, sekaligus membangun karakter.

Namun pada momentum Hari Kesaktian Pancasila, ruang pengabdian itu meluas.

Guru berdiri di tengah masyarakat, mengambil amanah, menjalankan tugas, dan menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diajarkan kepada murid harus terlebih dahulu hadir dalam perilaku orang dewasa yang menjadi teladan. Pendidikan karakter tidak selalu dimulai dari sebuah buku. Kadang-kadang, ia dimulai dari seorang guru yang berdiri tegap menjalankan amanah.

Dari lapangan upacara Kecamatan Kembaran, pesan itu terasa begitu kuat. Bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang memberi contoh, mengambil tanggung jawab, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan pengabdian.

Upacara Hari Kesaktian Pancasila tahun ini pun menjadi sebuah potret sederhana tentang bagaimana dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat bertemu dalam satu momentum.

Para guru kembali ke ruang kelas setelah upacara selesai. Namun keteladanan yang mereka tunjukkan di lapangan akan terus dibawa kembali kepada murid-murid mereka. Sebab, Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan oleh anak-anak di dalam kelas. Pancasila perlu dihidupkan melalui keteladanan—dan guru adalah salah satu wajah terdepan dari keteladanan itu.