Hal-Hal Sederhana yang Dilakukan dengan Ketulusan Dan Cinta yang Besar
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Dibalik riuhnya prosesi pernikahan dan hangatnya bimbingan bagi calon pengantin, ada tangan-tangan tulus yang bekerja dalam senyap, merangkai kebaikan tanpa pamrih. Pemandangan sederhana namun menyentuh itu tampak di KUA Jatilawang, ketika tiga sosok Penyuluh Agama dan Staf KUA—Muji Riyanti, Dwi Astuti, dan Zulfatun Ulya—dengan penuh keikhlasan menyiapkan dan membungkus snack untuk para calon pengantin (catin) yang telah menyelesaikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) mandiri. Senin (20/04)
Di sebuah sudut ruangan yang jauh dari sorotan, ketiganya duduk berdekatan, tangan mereka bergerak cekatan namun penuh kehati-hatian. Setiap bungkus yang mereka siapkan bukan sekadar makanan ringan, melainkan simbol perhatian, ungkapan kasih yang sederhana, dan bentuk pelayanan yang lahir dari hati.
Tak ada keluhan, tak ada lelah yang ditampakkan. Yang ada hanyalah senyum yang sesekali tersungging, seolah mereka menemukan kebahagiaan dalam memberi. Di tengah rutinitas yang mungkin tampak kecil di mata sebagian orang, tersimpan makna besar tentang pengabdian yang sesungguhnya.
Muji Riyanti, Dwi Astuti, dan Zulfatun Ulya memahami bahwa perjalanan calon pengantin tidaklah mudah. Bimbingan yang telah dilalui bukan hanya tentang teori rumah tangga, tetapi juga tentang kesiapan hati dan mental untuk menapaki kehidupan baru. Maka, bingkisan kecil yang mereka siapkan menjadi pelengkap yang hangat—sebuah penutup manis dari proses pembelajaran yang penuh makna.
“Ini mungkin sederhana, tapi semoga bisa menjadi kenangan kecil yang membekas,” ujar salah satu dari mereka dengan suara lembut, mencerminkan ketulusan yang tak dibuat-buat.
Kegiatan ini bukan bagian dari seremoni besar, namun justru di situlah letak keindahannya. Dalam kesunyian kerja yang tak banyak diketahui, mereka menunjukkan bahwa pelayanan tidak selalu harus terlihat megah. Kadang, ia hadir dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta yang besar.
Para calon pengantin yang menerima snack tersebut mungkin tidak sepenuhnya mengetahui proses di baliknya. Namun, setiap bungkus yang mereka terima sejatinya membawa doa—doa agar rumah tangga yang akan mereka bangun dipenuhi keberkahan, ketenangan, dan cinta yang terus tumbuh.
KUA Jatilawang melalui para penyuluh dan stafnya kembali menunjukkan bahwa nilai pelayanan tidak hanya diukur dari tugas utama yang dijalankan, tetapi juga dari kepedulian yang diberikan dalam setiap detail kecil. Bahwa di balik setiap program dan kegiatan, selalu ada hati yang bekerja, menghidupkan makna dari setiap pelayanan.
Hari itu, di ruang sederhana yang dipenuhi kehangatan, tiga perempuan itu telah mengajarkan satu hal penting: bahwa kebaikan, sekecil apa pun, akan selalu menemukan jalannya untuk menyentuh hati. Dan dari tangan-tangan yang membungkus snack itu, lahirlah cerita tentang ketulusan yang mungkin tak terdengar, namun akan selalu terasa.
