Harmonisasi Tradisi dan Religi: Warga Kalisalak Gali Makna Islamisasi Budaya Sadranan
Oleh KUA kebasen
Banyumas – Semangat menjaga tradisi sekaligus merawat akar budaya menjadi fokus utama warga RT 02 RW 13 Desa Kalisalak dalam menyambut momentum kearifan lokal. Bertempat di Masjid Darul Mu’minin, masyarakat berkumpul untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur di balik tradisi Sadranan. Kamis (05/02/26)
Acara tersebut menghadirkan Penyuluh Agama Islam Kecamatan Kebasen, Burhanul Ma’arif, sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, beliau mengupas tuntas sejarah panjang tradisi Sadranan yang telah mendarah daging di masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Banyumasan.
Beberapa poin utama yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut antara lain:
-
Sejarah Sadranan: Menelusuri asal-usul tradisi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus rasa syukur kepada Sang Pencipta.
-
Proses Islamisasi: Menjelaskan bagaimana para ulama terdahulu (Walisongo) melakukan akulturasi budaya, mengubah narasi lama menjadi sarana dakwah yang kental dengan nilai-nilai tauhid dan ukhuwah.
-
Merawat Identitas: Menekankan pentingnya generasi masa kini agar tidak sekadar menjalankan ritual, tetapi memahami filosofi birrul walidain (berbakti kepada orang tua/leluhur) di dalamnya.
Dalam kesempatan tersebut, Burhanul Ma’arif menegaskan bahwa tradisi harus diisi dengan kemaslahatan. "Tradisi bukan hanya soal warisan masa lalu, tapi bagaimana kita mengisi warisan tersebut dengan nilai-nilai kemaslahatan dan spiritualitas yang relevan dengan zaman sekarang," ujarnya di hadapan para jamaah.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diharapkan mampu mempererat kerukunan antarwarga Desa Kalisalak. Selain itu, agenda ini menjadi langkah nyata untuk memastikan bahwa budaya lokal tetap lestari tanpa kehilangan jati diri religiusnya.
