Ikatan Suci yang Menembus Batas Waktu
Banyumas — Di KUA Jatilawang yang penuh keteduhan, terhampar kisah tentang harapan, cinta, dan janji suci yang melampaui batas kehidupan dunia. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada pasangan calon pengantin, Bahtiar Feri Susanto dan Hikmah Rostani, dengan mengangkat tema yang begitu agung: ikatan suci pernikahan dari dunia hingga akhirat. Rabu (25/03)
Dalam suasana yang hening dan khidmat, setiap kata yang terucap terasa seperti doa yang mengalir lembut. Muhammad Taubah menuturkan bahwa pernikahan bukan sekadar akad yang menghalalkan dua insan untuk bersama, melainkan sebuah perjanjian sakral yang disaksikan oleh langit dan bumi—sebuah ikatan yang, jika dijaga dengan iman dan cinta, akan terus berlanjut hingga kehidupan setelah dunia berakhir.
“Pernikahan bukan hanya tentang hari ini, bukan pula sekadar tentang kebahagiaan yang tampak di permukaan. Ia adalah perjalanan panjang yang menghubungkan dua jiwa dalam ketaatan kepada Allah, sebuah ikatan yang diharapkan tidak terputus oleh kematian, tetapi justru dipertemukan kembali dalam keabadian,” tuturnya dengan suara yang dalam, menggetarkan relung hati yang mendengarkan.
Bahtiar Feri Susanto dan Hikmah Rostani tampak menyimak dengan penuh khusyuk. Di balik tatapan mereka, tersimpan harapan besar untuk membangun rumah tangga yang tidak hanya kokoh di dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju kebahagiaan di akhirat. Ada keheningan yang berbicara—tentang kesiapan, tentang doa, dan tentang cinta yang ingin dijaga dalam ridha Ilahi.
Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah menekankan bahwa ikatan suci pernikahan harus dibangun di atas fondasi iman, saling menghormati, dan keikhlasan dalam menjalani peran masing-masing. Ia mengingatkan bahwa setiap ujian dalam rumah tangga bukanlah untuk memisahkan, melainkan untuk menguatkan, selama keduanya tetap berpegang pada nilai-nilai yang telah mereka niatkan sejak awal.
“Jika cinta dibangun karena Allah, maka ia akan menemukan jalannya untuk tetap hidup, bahkan ketika raga tak lagi bersama. Di situlah letak keindahan pernikahan—ia menjadi ibadah yang panjang, yang pahalanya mengalir hingga akhir hayat, bahkan setelahnya,” lanjutnya, menghadirkan suasana haru yang perlahan menyelimuti ruangan.
Di akhir sesi, suasana terasa begitu syahdu. Tak ada suara yang meninggi, hanya doa-doa yang mengalun lirih di dalam hati masing-masing. Bahtiar Feri Susanto dan Hikmah Rostani melangkah keluar dengan langkah yang lebih mantap—membawa satu keyakinan yang menguatkan: bahwa cinta yang mereka rajut bukan sekadar untuk hari ini, tetapi untuk selamanya, hingga Allah mempertemukan kembali mereka di keabadian.
Dan di sanalah, di antara harapan yang terucap dan doa yang dipanjatkan, terlahir sebuah janji yang tak hanya diikat oleh kata-kata, tetapi oleh iman—sebuah ikatan suci yang menembus batas dunia, menuju akhirat yang abadi.
