Jaga Amal Jariyah yang Tak Pernah Putus

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas – Ada harta yang akan habis dimakan waktu, namun ada pula harta yang justru terus berbuah pahala bahkan ketika pemiliknya telah tiada. Di antara warisan yang paling mulia itu adalah wakaf, sebuah amal jariyah yang menghadirkan manfaat bagi banyak orang dan menjadi cahaya yang tak pernah padam sepanjang masa. Senin (15/06)

Semangat mulia itulah yang tampak ketika Iskandar Zulkarnain, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, menerima konsultasi dari warga Kecamatan Jatilawang mengenai prosedur wakaf tanah yang akan diperuntukkan bagi pembangunan dan kepentingan masjid.

Dengan penuh keramahan dan ketulusan, Iskandar Zulkarnain memberikan penjelasan mengenai tahapan serta ketentuan yang harus dipenuhi dalam proses perwakafan tanah. Konsultasi tersebut menjadi bagian dari pelayanan KUA kepada masyarakat dalam memberikan pendampingan dan kepastian hukum terhadap pelaksanaan ibadah sosial yang memiliki nilai kemaslahatan jangka panjang.

Suasana konsultasi berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Di balik pembahasan mengenai administrasi dan prosedur yang harus ditempuh, tersimpan niat yang begitu luhur, yakni menghadirkan rumah ibadah yang akan menjadi tempat bersujud, tempat anak-anak belajar mengaji, dan tempat masyarakat mempererat ukhuwah serta menumbuhkan nilai-nilai keimanan.

Menurut Iskandar Zulkarnain, wakaf merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki nilai istimewa karena manfaatnya dapat terus dirasakan oleh generasi yang silih berganti.

"Wakaf bukan sekadar menyerahkan sebidang tanah, tetapi mewariskan kebaikan yang pahalanya terus mengalir. Setiap lantunan ayat suci, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap sujud yang dilakukan di atas tanah wakaf itu akan menjadi saksi betapa indahnya keikhlasan seseorang dalam berbagi," tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa KUA Jatilawang siap memberikan pelayanan dan pendampingan kepada masyarakat agar proses wakaf dapat berjalan sesuai dengan ketentuan agama dan peraturan yang berlaku, sehingga memberikan perlindungan hukum dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi umat.

Di tengah kehidupan yang terus berubah, masih ada hati-hati yang memilih untuk menanam kebaikan bagi masa depan. Mereka tidak hanya memikirkan apa yang dapat dinikmati hari ini, tetapi juga apa yang dapat terus memberi manfaat bagi anak cucu dan masyarakat di kemudian hari.

Sesungguhnya, masjid bukan hanya bangunan yang berdiri dengan batu dan semen. Ia dibangun oleh ketulusan, oleh doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap, dan oleh tangan-tangan yang ikhlas mengorbankan sebagian miliknya demi kemuliaan agama.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika generasi demi generasi datang silih berganti, ketika azan terus berkumandang dan ayat-ayat Al-Qur'an terus dilantunkan dari masjid yang berdiri di atas tanah wakaf tersebut, tidak banyak orang yang mengenal nama pewakifnya. Namun Allah Yang Maha Mengetahui tidak akan pernah melupakan setiap jengkal tanah yang diikhlaskan demi rumah-Nya.

Di ruang pelayanan KUA Jatilawang yang sederhana itu, sebuah cita-cita besar tengah dirajut. Sebab dari sepetak tanah yang diwakafkan dengan penuh keikhlasan, dapat tumbuh peradaban, lahir generasi yang beriman, dan mengalir pahala yang tak pernah terputus hingga akhir zaman.

"Sesungguhnya manusia akan pergi meninggalkan dunia, tetapi kebaikan yang ditanam dengan keikhlasan akan tetap hidup, menjadi doa, menjadi cahaya, dan menjadi jejak cinta yang tak pernah hilang dari langit dan bumi."