Jangan Tunggu Membara, Kemenag Banyumas Gelar FGD Deteksi Dini Konflik Keagamaan
Oleh HUMAS
Purwokerto (Humas) – Dalam rangka memperkuat langkah preventif terhadap potensi konflik sosial keagamaan, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyumas menggelar Forum Group Discussion (FGD) bertajuk Deteksi/Pencegahan Dini Potensi Konflik Keagamaan. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Kankemenag Banyumas ini, menjadi tonggak penting lahirnya berbagai inisiatif strategis demi menjaga stabilitas dan keharmonisan kehidupan beragama di tengah masyarakat yang plural. Kamis (10/07)
Hadir dalam forum tersebut Kepala Kantor Kemenag Banyumas, Bimas Islam, Kepala KUA, Penyuluh Agama Islam, Organisasi Rohis sekolah, perwakilan dari MUI, Fatayat NU, Nasyiatul Aisyiyah, Al Irsyad serta media massa.
Dalam arahannya, Kakan Kemenag Banyumas Ibnu Asaddudin, menekankan pentingnya peran para tokoh agama dan pemuka masyarakat dalam menjaga harmoni umat beragama. “Tugas kita bukan hanya menyelesaikan konflik, tetapi mendeteksi dan mencegahnya sejak awal. Deteksi dini adalah kunci menjaga kerukunan,” tegasnya.
"Melalui FGD ini, kita merancang sistem SITEPLIK-MAS (Sistem Informasi Deteksi Konflik Banyumas) sebagai platform data, pelaporan, dan pemantauan potensi konflik di masyarakat, sehingga kita bisa mengantisipasi potensi konflik sejak dini, sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih besar,” lanjutnya.
Sebagai tindak lanjut dari diskusi yang berlangsung terbuka dan dialogis tersebut, disepakati pembentukan tim deteksi dini penanganan konflik sosial keagamaan yang bersifat inklusif dan responsive terhadap dinamika sosial dan keagamaan di masyarakat.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 408 Tahun 2025 tentang Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan, sekaligus menjadi percontohan kolaborasi antar elemen masyarakat dan pemerintah dalam menciptakan iklim keberagamaan yang damai, moderat, dan produktif.
Dengan semangat kebersamaan dan komunikasi terbuka, diharapkan program deteksi dini ini dapat memperkuat barisan penjaga kerukunan lintas iman, demi Indonesia yang rukun, toleran, dan bermartabat. (yud/del)
