Kakan Kemenag Hadiri Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto - Kakan Kemenag beserta KA Dindik hadir dalam acara Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri Provinsi Jawa Tengah di Java Heritage. Kegiatan tersebut terus digencarkan oleh berbagai pihak, terutama Lembaga Sensor Film (LSF) yang bekerja sama dengan instansi terkait dan perguruan tinggi UIN SAIZU. Tujuannya adalah untuk meningkatkan literasi masyarakat dalam memilah dan memilih tontonan sesuai dengan klasifikasi usia, mengingat derasnya arus informasi dan konten digital saat ini.
Beberapa poin penting terkait sosialisasi ini di Jawa Tengah:
 * Pentingnya Sensor Mandiri: LSF menekankan bahwa di era digital ini, LSF tidak mampu mengontrol dan menyensor seluruh tayangan film yang beredar di media sosial. Oleh karena itu, budaya sensor mandiri menjadi krusial, terutama bagi orang tua untuk mengontrol tayangan anak-anak mereka. Menonton film yang tidak sesuai usia dapat berdampak negatif pada mental, tumbuh kembang, bahkan prestasi anak.
 * Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi: LSF aktif berkolaborasi dengan perguruan tinggi di Jawa Tengah, seperti UIN SAIZU Purwokerto. Kerjasama ini melibatkan akademisi, praktisi, dinas, dan mahasiswa untuk menyelenggarakan sosialisasi yang komprehensif. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya seremoni, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat dalam memilih tontonan.
 * Fokus pada Literasi Digital: Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri ini merupakan bagian integral dari upaya peningkatan literasi digital masyarakat. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga memiliki program Literasi Digital yang mencakup empat pilar utama: Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital. Semua ini bertujuan untuk membekali masyarakat agar lebih bijak dan bertanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital, termasuk dalam memilih dan memilah tontonan.
 * Sasaran Audiens: Sosialisasi ini menyasar berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, pelajar, orang tua, hingga konten kreator. Pesan yang disampaikan kepada konten kreator adalah untuk membuat konten positif yang bermanfaat bagi masyarakat.
 * Tantangan dan Harapan: Tantangan utama adalah disrupsi informasi dan tontonan yang bergerak cepat dan sulit dikontrol. Oleh karena itu, penguatan kemampuan masyarakat untuk membekali diri dalam memilih dan memilah tontonan menjadi sangat penting. Diharapkan sosialisasi ini dapat terus menggelinding dan mendorong inisiatif-inisiatif lain untuk kerja konkret di tengah masyarakat.
Secara umum, sosialisasi ini berupaya membangun kesadaran kolektif bahwa memilih tontonan yang cerdas adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari individu dan keluarga, untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat dan bermanfaat.