HUT RI #81

Kegagalan Dijadikan Pijakan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
25 Mar 2026
15x dibaca
SHARE

Banyumas — Suasana di KUA Jatilawang terasa berbeda. Bukan sekadar ruang bimbingan biasa, melainkan tempat di mana luka-luka masa lalu perlahan dipeluk, dimaknai, lalu diubah menjadi cahaya harapan. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada pasangan calon pengantin, Darman dan Sartini, dengan tema yang jarang diangkat namun begitu dalam: kegagalan pernikahan sebagai pengalaman yang sangat berharga. Rabu (25/03)

Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah mengajak kedua calon pengantin itu untuk tidak memandang kegagalan sebagai akhir dari segalanya. Dengan tutur kata yang tenang namun sarat makna, ia menjelaskan bahwa setiap kegagalan adalah guru yang tak pernah lelah mengajarkan arti kesabaran, keikhlasan, dan kedewasaan dalam mencintai.

“Kegagalan dalam pernikahan bukanlah aib yang harus disembunyikan, melainkan pelajaran yang harus dipahami. Dari sanalah kita belajar bagaimana memperbaiki diri, bagaimana mencintai dengan lebih tulus, dan bagaimana menjaga sesuatu yang pernah hampir hilang,” ungkapnya, lirih namun menggetarkan hati.

Darman dan Sartini tampak terdiam, sesekali mengangguk, seolah setiap kalimat menyentuh bagian terdalam dari perjalanan hidup mereka. Ada jejak masa lalu yang mungkin tak mudah dilupakan, tetapi di ruang itu, mereka belajar bahwa masa lalu bukan untuk disesali, melainkan untuk dijadikan pijakan menuju masa depan yang lebih baik.

Bimwin kali ini terasa begitu manusiawi—tidak menggurui, tidak menghakimi. Justru sebaliknya, menghadirkan pelukan hangat bagi mereka yang pernah jatuh, lalu memilih untuk bangkit kembali. Muhammad Taubah menegaskan bahwa pernikahan yang kuat bukanlah pernikahan yang tanpa masalah, melainkan yang mampu bertahan dan tumbuh dari setiap ujian yang datang.

Ia juga mengingatkan bahwa membangun rumah tangga ibarat merajut benang-benang halus—rapuh jika ditarik paksa, namun akan menjadi indah jika dirawat dengan kesabaran dan kejujuran. Dalam setiap kegagalan, selalu ada serpihan hikmah yang bisa dirangkai kembali menjadi harapan.

Di akhir sesi, suasana menjadi haru. Ada air mata yang tak jatuh, namun terasa menggenang di pelupuk mata. Bukan karena kesedihan semata, melainkan karena kelegaan—bahwa luka masa lalu telah menemukan maknanya. Darman dan Sartini melangkah keluar dari ruangan itu dengan hati yang lebih lapang, membawa satu keyakinan: bahwa kegagalan bukanlah penutup cerita, melainkan awal dari bab baru yang lebih bijaksana dan penuh cinta.

Dan di sanalah, di antara kata-kata yang sederhana namun penuh makna, lahir harapan baru—bahwa cinta, seberapa pun pernah terluka, selalu punya cara untuk tumbuh kembali.