Kemenag Banyumas Dorong "Kurikulum Berbasis Cinta" dan "Gema Tasbih" untuk Lahirkan Generasi Emas Madrasah

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto (Humas) - Komite Kerja Madrasah (KKM) dan Kelompok Kerja Guru (KKG) Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kecamatan Ajibarang menyelenggarakan kegiatan pembinaan yang strategis. Bertempat di Aula Zam Zam Komplek Pontren Modern Zam Zam Cilongok Kampus 3, acara ini dihadiri oleh 192 peserta yang terdiri dari Kepala Madrasah dan guru-guru MI se-Kecamatan Ajibarang, dengan menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas dan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Penma). Senin (15/09)

Kepala Kantor Kemenag Banyumas, H. Ibnu Asaddudin, dalam pembinaannya menekankan filosofi mendidik yang berpusat pada potensi anak. "Setiap anak mempunyai potensi yang berbeda-beda dan tidak bisa dipaksakan sesuai dengan keinginan guru atau orang tua. Tugas kita hanya mengarahkan dan membimbing anak sesuai dengan bakatnya, memfasilitasi agar anak dapat terus berkembang dan tumbuh ke arah yang lebih baik," ujarnya. 

Ibnu Asaddudin juga menggarisbawahi pentingnya Kurikulum Berbasis Cinta dalam setiap pembelajaran. "Guru harus menghadirkan cinta dalam pembelajaran, menjadi teladan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, menciptakan suasana kelas yang penuh kasih, serta mendorong kegiatan yang menumbuhkan empati dan solidaritas sosial. Ketika guru sudah menghadirkan cinta, siswa akan tertarik dan menghargai gurunya," tegasnya, mengingatkan bahwa profesionalisme harus tetap terjaga tanpa memikirkan disukai atau tidak oleh siswa.

Sementara itu, Kepala Seksi Penma, Wahyu Fauzi Aziz, memperkenalkan program "Gema Tasbih" (Gerakan Berkualitas, Berakhlakul Karimah, Integritif, dan Harmoni). Ia mengajak semua stakeholder untuk keluar dari zona nyaman dan lebih peduli serta konsisten dalam menjalankan kebiasaan positif seperti sholat berjamaah, salat Dhuha, dan program tahfiz. "Pembiasaan nilai-nilai ini tidak hanya membentuk karakter religius, tetapi juga dapat menjadi keunggulan dan daya tarik masyarakat untuk menyekolahkan putra putrinya di madrasah," ungkap Wahyu.

Wahyu Fauzi Aziz juga memaparkan lebih lanjut tentang "Kurikulum Berbasis Cinta" yang muncul sebagai solusi atas permasalahan di dunia pendidikan, termasuk kasus bullying di madrasah. Kurikulum ini menekankan lima pilar cinta, yakni, cinta pada Allah dan Rasul, cinta kepada sesama dan diri sendiri, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, dan cinta kepada bangsa. "Anak-anak yang kita didik nantinya merupakan generasi penerus bangsa yang bertujuan untuk mempersiapkan Indonesia Emas 2045, agar tidak hanya unggul di intelektual saja tetapi juga memiliki karakter yang mencerminkan siswa madrasah," tambahnya, menegaskan pentingnya membentuk mindset anak sejak dini.

Kedepan, Seksi Penma akan melakukan pendataan madrasah di Banyumas untuk mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan masing-masing, serta meluncurkan program "Sahabat Madrasah" agar madrasah yang maju dapat berbagi kisah suksesnya. Ada pula rencana untuk membuat aplikasi profil madrasah se-Kabupaten Banyumas, yang memudahkan orang tua melihat keunggulan madrasah dan memilih sesuai harapannya di era keterbukaan informasi ini.

Di akhir pembinaan, Wahyu Fauzi Aziz menegaskan agar semua stakeholder aktif bergerak dan ikut menyukseskan program-program seperti Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). "Melalui kegiatan ini, diharapkan guru-guru dapat mengaplikasikan ilmu yang sudah diterima di madrasahnya masing-masing untuk melahirkan generasi madrasah yang cerdas, berkarakter, dan peduli," pungkasnya.