Khutbah Jumat : Penyuluh Langitkan Doa yang Berjalan Diatas Kaki-Kaki yang Letih
Banyumas — Mimbar Masjid Babul Qudus siang itu berdiri tenang di bawah cahaya matahari Jumat yang jatuh lembut melalui celah jendela. Jamaah duduk berbaris rapi, sebagian dengan wajah letih, sebagian dengan sorot mata yang menyimpan banyak cerita tentang kehidupan. Di hadapan mereka, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, melangkah perlahan untuk menunaikan amanah khotbah Jumat—amanah yang kali ini menyentuh urat nadi kehidupan banyak keluarga: pahala mencari nafkah untuk keluarga. (Jum’at, 6/2)
Dengan suara yang tidak meninggi, namun menembus relung hati, Muhammad Taubah membuka khotbahnya. Ia tidak sekadar menyampaikan dalil, tetapi menghadirkan cermin bagi setiap ayah, setiap suami, dan setiap anak yang pernah merasakan lelah demi orang-orang yang dicintai.
“Mencari nafkah,” tuturnya, “bukan sekadar pergi pagi dan pulang senja. Ia adalah ibadah yang sering tak terdengar, doa yang berjalan di atas kaki-kaki lelah.”
Kalimat itu menggantung di udara, membuat jamaah terdiam. Di saf-saf masjid, ada buruh yang tangannya kapalan, ada pedagang yang setiap hari menakar harapan, ada pegawai yang memanggul tanggung jawab tanpa suara. Mereka seakan menemukan nama bagi jerih payah yang selama ini mereka simpan dalam diam.
Dalam khotbahnya, Muhammad Taubah menegaskan bahwa setiap tetes keringat yang dikeluarkan demi keluarga bernilai pahala di sisi Allah SWT, selama dilakukan dengan niat yang lurus dan cara yang halal. Ia mengutip ajaran Rasulullah SAW tentang kemuliaan orang yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya—bahwa mereka sejajar dengan pejuang di jalan Allah.
Nada suaranya melembut ketika ia mengingatkan bahwa kelelahan para pencari nafkah sering kali tak sempat dirayakan, bahkan kadang tak sempat dimengerti. Namun di hadapan Allah, kata Muhammad Taubah, tidak ada satu pun usaha yang sia-sia.
“Ketika engkau melangkah meninggalkan rumah,” ucapnya lirih, “dan anak-anakmu masih terlelap, sesungguhnya malaikat telah mencatat langkahmu sebagai amal.”
Beberapa jamaah menunduk. Ada yang menghela napas panjang, ada yang mengusap mata. Khotbah itu seperti memeluk mereka yang selama ini hanya kuat di hadapan dunia, namun rapuh dalam kesunyian.
Khotbah Jumat di Masjid Babul Qudus ini menjadi pengingat bahwa Islam memuliakan kerja, menghargai pengorbanan, dan mengangkat derajat mereka yang setia menunaikan tanggung jawab keluarga. Lebih dari itu, pesan yang disampaikan Muhammad Taubah menegaskan bahwa cinta kepada keluarga dapat menjadi jalan paling dekat menuju ridha Ilahi.
Saat azan berkumandang dan khotbah berakhir, jamaah bangkit untuk menunaikan salat. Di antara gerakan sujud, terselip doa-doa yang mungkin tak pernah terucap: semoga lelah hari ini dicatat sebagai ibadah, dan perjuangan yang sunyi mendapat balasan surga.
Di Masjid Babul Qudus siang itu, mimbar Jumat tidak hanya menjadi tempat khutbah disampaikan, tetapi menjadi ruang pengakuan—bahwa para pencari nafkah, dengan segala keterbatasannya, adalah hamba-hamba yang dimuliakan oleh Allah.
