HUT RI #81

Komunikasi yang Menyejukkan menjadi Panduan Catin Dalam Bimwin KUA Jatilawang

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Ada rumah yang megah tetapi terasa sepi. Ada pula rumah yang sederhana, namun selalu menjadi tempat hati ingin kembali. Sering kali, yang membuat sebuah rumah terasa hangat bukanlah luasnya bangunan, melainkan kata-kata yang diucapkan dengan kasih sayang dan telinga yang bersedia mendengarkan. Jumat (02/10)

Pesan itulah yang disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Adi Sasongko dan Latifah Az Zhahra dengan materi “Komunikasi yang Menyejukkan.”

Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa komunikasi merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Pernikahan mempertemukan dua pribadi dengan latar belakang, kebiasaan, karakter, dan cara berpikir yang mungkin berbeda. Perbedaan itu tidak semestinya menjadi sumber pertengkaran, tetapi menjadi ruang untuk saling mengenal dan memahami.

Komunikasi yang baik, menurutnya, bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi juga kesediaan untuk mendengarkan. Suami perlu belajar mendengar tanpa terburu-buru menghakimi, sementara istri pun perlu menyampaikan perasaan dan harapan dengan cara yang santun. Dari percakapan yang sederhana, sering kali lahir pengertian yang mampu menyelamatkan sebuah hubungan.

Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa dalam kehidupan rumah tangga. Satu kalimat dapat menjadi pelukan bagi hati yang sedang lelah, tetapi satu kalimat pula dapat meninggalkan luka yang membutuhkan waktu panjang untuk sembuh.

Karena itu, pasangan suami istri perlu berhati-hati ketika berbicara, terutama saat emosi sedang meninggi. Perselisihan adalah sesuatu yang mungkin terjadi dalam kehidupan rumah tangga, tetapi cara menyelesaikannya akan menentukan apakah sebuah persoalan menjadi jalan menuju kedewasaan atau justru menjadi jurang yang memisahkan.

Bagi Adi dan Latifah, pesan tersebut menjadi bekal penting sebelum melangkah menuju kehidupan pernikahan. Mereka diajak memahami bahwa tidak semua persoalan harus dimenangkan dengan perdebatan. Terkadang, mengalah bukan berarti kalah. Diam sejenak bukan berarti tidak peduli. Memilih kata-kata yang lembut bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk penghormatan kepada orang yang telah dipilih untuk menjadi pasangan hidup.

Dalam rumah tangga, ada kalanya suami pulang membawa lelah yang tidak mampu ia ceritakan. Ada pula saat istri tersenyum meski hatinya sedang menyimpan banyak beban. Pada saat seperti itulah komunikasi yang menyejukkan menjadi sangat berarti.

Sebuah pertanyaan sederhana, “Apa yang kamu rasakan hari ini?” dapat menjadi pintu bagi hati yang lama tertutup. Sebuah kalimat, “Aku ada di sini, kita hadapi bersama,” dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian dalam menghadapi kehidupan.

Muhammad Taubah juga mengarahkan calon pengantin untuk membangun kebiasaan berbicara dari hati ke hati, terutama dalam membicarakan persoalan penting seperti ekonomi keluarga, pembagian peran, hubungan dengan keluarga besar, pendidikan anak, serta berbagai persoalan yang mungkin muncul dalam perjalanan rumah tangga.

Komunikasi yang sehat akan membantu pasangan mengambil keputusan bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri. Sebab setelah akad terucap, kehidupan bukan lagi tentang “aku” dan “kamu”, melainkan tentang “kita”—dua manusia yang belajar menyatukan langkah dalam satu perjalanan.

Bimwin tersebut menjadi pengingat bahwa pernikahan bukanlah akhir dari pencarian kebahagiaan, melainkan awal dari perjuangan untuk menciptakan kebahagiaan bersama. Cinta membutuhkan bahasa agar dapat dipahami, dan bahasa membutuhkan kelembutan agar tidak berubah menjadi luka.

Kelak, ketika usia mulai bertambah, rambut mulai memutih, dan kehidupan menghadirkan berbagai ujian, mungkin bukan lagi kemewahan yang paling mereka cari. Barangkali yang paling berharga adalah masih adanya seseorang yang bersedia duduk di sampingnya, mendengarkan ceritanya, menggenggam tangannya, lalu berkata dengan sederhana, “Tidak apa-apa. Kita hadapi bersama.”

Itulah hakikat komunikasi yang menyejukkan: bukan sekadar berbicara agar didengar, tetapi berbicara agar dipahami; bukan sekadar mendengar suara, tetapi mendengarkan hati.

Semoga Adi Sasongko dan Latifah Az Zhahra mampu menjadikan komunikasi sebagai jembatan kasih dalam membangun rumah tangga. Semoga setiap kata yang terucap menjadi doa, setiap percakapan menjadi jalan menuju pengertian, dan setiap perbedaan berakhir pada semakin kuatnya genggaman.

Sebab rumah tangga yang indah bukan rumah tanpa masalah, melainkan rumah yang penghuninya selalu menemukan jalan untuk kembali berbicara dengan hati.

Dan ketika suatu hari dunia terasa begitu bising, semoga rumah mereka tetap menjadi tempat paling tenang untuk pulang—tempat dua hati saling mendengarkan, saling memaafkan, dan saling berkata, “Aku masih di sini, dan aku memilih tetap bersamamu.”