KUA Jatilawang Berharap agar Catin Jangan Menuntut Pasangan Jadi Sempurna
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Tidak ada manusia yang datang ke dunia dengan kesempurnaan. Setiap orang membawa kelebihan sekaligus kekurangan, memiliki sisi yang kuat sekaligus bagian yang rapuh. Demikian pula dalam pernikahan. Dua insan yang dipertemukan dalam ikatan suci bukanlah dua manusia tanpa cela, melainkan dua pribadi yang belajar saling menerima dan menyempurnakan perjalanan hidup bersama. Jumat (02/10)
Pesan penuh makna tersebut disampaikan Abdul Khanan, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada Calon Pengantin (Catin) Nazri Yunus dan Mayzatul dengan materi “Jangan Menuntut Pasangan Menjadi Sempurna.”
Dalam bimbingannya, Abdul Khanan mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa salah satu sumber kekecewaan dalam rumah tangga adalah harapan agar pasangan selalu sesuai dengan gambaran ideal yang ada dalam pikiran. Padahal, setelah akad terucap, mereka akan menemukan bahwa orang yang dicintai juga memiliki kebiasaan, karakter, cara berpikir, dan kelemahan yang tidak selalu sama dengan dirinya.
Pernikahan kemudian menjadi ruang belajar yang panjang. Belajar memahami ketika pasangan sedang lelah. Belajar bersabar ketika komunikasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Belajar memaafkan kesalahan yang manusiawi. Dan yang tidak kalah penting, belajar melihat kebaikan pasangan tanpa membiarkan satu kekurangan menutupi begitu banyak kelebihan yang telah diberikan.
Abdul Khanan menekankan bahwa menerima kekurangan pasangan bukan berarti membenarkan kesalahan. Suami dan istri tetap perlu saling mengingatkan, tetapi dilakukan dengan cara yang penuh kasih, bukan dengan merendahkan. Nasihat yang lahir dari cinta akan terasa seperti tangan yang menuntun, bukan tangan yang mendorong seseorang jatuh.
Dalam kehidupan rumah tangga, mungkin akan ada kebiasaan pasangan yang tidak sesuai dengan keinginan. Ada perkataan yang terkadang salah dipahami, keputusan yang tidak selalu sesuai harapan, atau sikap yang membuat hati terluka. Pada saat seperti itu, pasangan perlu belajar bertanya kepada diri sendiri: apakah persoalan tersebut harus menjadi alasan untuk menjauh, atau justru menjadi kesempatan untuk belajar memahami?
Sebab cinta yang dewasa bukanlah cinta yang berkata, “Aku mencintaimu karena kamu sempurna.” Cinta yang dewasa justru mampu berkata, “Aku tahu kamu memiliki kekurangan, tetapi aku memilih untuk belajar memahamimu dan tumbuh bersamamu.”
Rumah tangga juga bukan tempat untuk mencari siapa yang paling benar. Ia adalah tempat dua manusia belajar menemukan jalan keluar ketika menghadapi persoalan. Ketika suami lelah, istri tidak harus menambah bebannya. Ketika istri sedang rapuh, suami tidak seharusnya membuatnya merasa sendirian.
Kadang-kadang, yang dibutuhkan pasangan bukan nasihat panjang, melainkan telinga yang mau mendengar. Bukan jawaban yang rumit, melainkan pelukan sederhana. Bukan perdebatan tentang siapa yang salah, melainkan keberanian untuk mengatakan, “Mari kita selesaikan bersama.”
Bimwin yang diberikan Abdul Khanan menjadi bekal penting bagi Nazri Yunus dan Mayzatul untuk memasuki kehidupan pernikahan dengan harapan yang lebih realistis. Bahwa setelah akad nanti, mereka tidak hanya akan menemukan hari-hari yang penuh tawa, tetapi juga hari-hari yang menguji kesabaran.
Namun justru di situlah nilai sebuah pernikahan. Kebersamaan tidak hanya diuji ketika semuanya berjalan sesuai rencana, tetapi ketika keadaan berubah dan seseorang tetap memilih untuk tinggal.
Ada masa ketika rambut mulai memutih, wajah tidak lagi semuda ketika pertama kali bertemu, tenaga tidak lagi sekuat dahulu, dan kehidupan membawa banyak perubahan. Pada saat itu, yang membuat seseorang tetap bertahan bukanlah kesempurnaan fisik ataupun kemudahan hidup, melainkan kenangan tentang bagaimana mereka dahulu belajar saling menerima.
Nazri dan Mayzatul diingatkan bahwa kelak akan ada banyak hal yang tidak dapat mereka ubah dari pasangannya. Tetapi mereka selalu dapat memilih bagaimana cara menyikapinya: dengan kemarahan atau kesabaran, dengan tuntutan atau pengertian, dengan menjauh atau kembali menggenggam tangan yang sama.
Karena sesungguhnya, rumah tangga yang kokoh bukanlah rumah tangga yang dihuni dua manusia sempurna. Rumah tangga yang kokoh adalah tempat dua manusia yang sama-sama memiliki kekurangan bersedia saling menjaga agar tidak tumbang.
Semoga bekal Bimwin tersebut menjadi cahaya bagi perjalanan Nazri Yunus dan Mayzatul dalam membangun keluarga. Semoga mereka tidak sibuk menghitung kekurangan satu sama lain, tetapi lebih rajin menghitung alasan untuk bersyukur.
Sebab suatu hari nanti, ketika usia telah membawa mereka jauh dari masa muda, mungkin yang paling berharga bukan lagi tentang siapa yang paling sempurna, melainkan siapa yang tetap berada di sisi kita ketika dunia perlahan berubah.
Jangan menuntut pasangan menjadi sempurna. Jadilah pasangan yang bersedia memahami, menerima, menguatkan, dan terus belajar mencintai—setiap hari, sepanjang usia.
