KUA MT Arraudhah: Tak Ada Kata Terlambat untuk Belajar Al Quran, Meski dalam Keterbatasan
Banyumas - Mentari perlahan condong ke barat, membiarkan semburat jingga menyentuh dinding-dinding kayu Mushala Arraudhah di Somakaton. Namun, kehangatan sebenarnya tidak berasal dari sinar matahari, melainkan dari suara riuh rendah ibu-ibu Majelis Taklim Arraudhah yang berkumpul dengan satu niat suci: menjemput syafaat Al-Quran. Di bawah bimbingan penyuluh dari KUA Somagede, suasana mushala sore itu terasa begitu hidup. Bukan sekadar pertemuan rutin, ini adalah perjalanan spiritual di mana setiap jeda napas adalah doa, dan setiap huruf yang terbata adalah bukti cinta kepada Sang Pencipta. Di sini, di tempat yang sederhana ini, kita belajar bahwa Al-Quran adalah milik semua orang, tanpa memandang usia, kemampuan, bahkan penglihatan. Selasa (10/02)
Membuka Pintu Langit dengan QS Al-Insyiqaq
Kegiatan sore itu dibuka dengan kebersamaan yang megah. Seluruh jamaah melantunkan Surah Al-Insyiqaq secara tartil. Suara yang menyatu menciptakan harmoni yang menggetarkan arsy. Idzas samaa-un syaqqat... (Apabila langit terbelah). Pemilihan surah ini seolah menjadi pengingat bagi para jamaah bahwa kelak segala amal akan diperlihatkan, termasuk usaha keras mereka dalam mempelajari kitab suci-Nya.
Bagi KUA Somagede, memulai bimbingan dengan membaca bersama adalah cara untuk menyamakan frekuensi hati. Tartil bersama ini bukan tentang siapa yang paling fasih, melainkan tentang bagaimana kita merundukkan ego di hadapan firman Allah. Getaran suara dari puluhan ibu-ibu ini seolah menyapu penat setelah seharian beraktivitas di rumah atau ladang, menggantinya dengan ketenangan yang menghujam ke dalam jiwa.
Ketika Hati yang Melihat (Kisah Jamaah Tuna Netra)
Pemandangan paling mengharukan terjadi saat sesi bimbingan personal dimulai. Di sudut mushala, tampak seorang ibu tuna netra duduk dengan khidmat. Ia tidak memegang mushaf fisik, namun pendengarannya setajam berlian. Dengan penuh kesabaran, penyuluh dari KUA Somagede membimbingnya ayat demi ayat.
Ibu tersebut mendengarkan, meresapi, lalu menirukan setiap makharijul huruf dengan penuh kehati-hatian. Ini adalah bukti nyata bahwa Al-Quran tidak hanya turun untuk mereka yang bisa melihat dengan mata, tetapi terutama untuk mereka yang melihat dengan hati. Momen ini menjadi tamparan halus bagi kita yang memiliki penglihatan sempurna namun terkadang enggan membuka mushaf. Di Mushala Arraudhah, keterbatasan fisik bukan penghalang; ia justru menjadi saksi bisu betapa besarnya tekad seseorang untuk tetap terhubung dengan cahaya Illahi.
Dari Iqra hingga Hafalan Juz 30
Salah satu tantangan terbesar dalam mengajar orang dewasa adalah rasa percaya diri. Namun, dalam bimbingan KUA Somagede di Somakaton ini, perbedaan tingkat kemampuan justru menjadi warna yang indah.
Kelompok Iqra : Ada ibu-ibu yang dengan sabar mengeja alif, ba, ta. Jari-jari mereka yang mungkin sudah kasar karena pekerjaan rumah tangga, dengan telaten menelusuri setiap huruf hijaiyah. Tidak ada rasa malu, yang ada hanyalah semangat thulabul ilmi.
Kelompok Al-Quran : Bagi mereka yang sudah lancar, fokus bimbingan beralih pada perbaikan tajwid dan kelancaran bacaan.
Hafalan Juz 30 : Beberapa jamaah mulai mencoba menyetorkan hafalan surat-surat pendek. Menjaga hafalan di usia senja tentu bukan perkara mudah, namun dukungan dari sesama jamaah membuat beban itu terasa ringan.
Strategi bimbingan perorangan ini memastikan bahwa setiap jamaah mendapatkan porsi perhatian yang sesuai. KUA Somagede memahami bahwa memaksa semua orang berada di level yang sama hanya akan memadamkan semangat. Kuncinya adalah: maju sedikit demi sedikit, yang penting istiqamah.
"Jangan Minder, Setiap Usaha Adalah Pahala"
Penyuluh KUA Somagede berulang kali menekankan satu pesan krusial: Jangan pernah merasa rendah diri hanya karena masih belajar di usia lanjut. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan ia mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala pahala membaca dan pahala kesabarannya dalam belajar.
Pesan ini sangat penting untuk melawan stigma "malu belajar karena sudah tua". Di Mushala Arraudhah, setiap satu huruf yang diucapkan adalah satu kebaikan, dan sepuluh kebaikan menyertainya. Motivasi ini adalah bahan bakar utama yang membuat para ibu di Somakaton tetap rutin hadir meski raga mungkin sudah lelah. Tradisi membaca Al-Quran ini ingin dijaga agar terus mengakar, menjadi warisan bagi anak cucu bahwa belajar tidak mengenal kata pensiun.
Tips Tetap Semangat Belajar Al-Quran di Usia Dewasa
Bagi Anda yang mungkin merasakan hal yang sama dengan jamaah di Somakaton, berikut beberapa tips agar tetap konsisten belajar :
Luruskan Nia t: Belajarlah untuk mencari ridha Allah, bukan untuk mendapat pujian manusia.
Cari Guru yang Saba r: Seperti penyuluh dari KUA Somagede, guru yang membimbing dengan hati akan membuat proses belajar terasa menyenangkan.
Jangan Bandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain : Fokuslah pada kemajuan diri Anda sendiri. Satu ayat yang lebih baik dari kemarin adalah sebuah kemenangan.
Luangkan Waktu, Bukan Menunggu Waktu Luang : Cukup 15 menit setiap hari, namun dilakukan secara konsisten (istiqamah).
Gunakan Media Pendukung : Bagi yang kesulitan membaca, sering-seringlah mendengarkan murottal agar telinga terbiasa dengan irama dan makhraj yang benar.
Cahaya Quran yang Tak Pernah Padam
Kegiatan bimbingan di Mushala Arraudhah Somakaton ini adalah oase di tengah gempuran zaman. Sinergi antara KUA Somagede dan masyarakat menunjukkan bahwa nilai-nilai religiusitas masih terjaga dengan baik di akar rumput. Kita belajar bahwa Al-Quran adalah pendamping hidup yang paling setia, yang akan menerangi kegelapan, baik kegelapan di dunia maupun di alam kubur nanti.
Melalui dedikasi para penyuluh dan semangat baja para jamaah terutama saudara kita yang tuna netra kita diingatkan kembali bahwa "kemampuan" yang sesungguhnya adalah kemauan hati. Semoga tradisi mulia ini terus berlanjut dan menginspirasi desa-desa lain di wilayah Somagede dan sekitarnya.
Bagaimana pengalaman Anda dalam belajar Al-Quran? Apakah Anda juga merasa tantangan tertentu dalam menjaga konsistensi membaca di tengah kesibukan? Atau mungkin Anda memiliki pengalaman menarik saat membimbing orang tua belajar mengaji?
Narasumber : Yasaroh
Sumber : https://kuasomagede23.blogspot.com/
